Harga kopi bergerak menguat pada 24 Januari, dengan kenaikan terjadi di dua bursa utama. Di bursa New York, kopi arabika untuk pengiriman Maret 2026 naik 3,2 sen AS per pon atau 0,92% menjadi 350,9 sen AS per pon. Kontrak pengiriman Mei 2026 meningkat 2,15 sen AS per pon menjadi 333,45 sen AS per pon, sementara periode kontrak lainnya juga tercatat naik sekitar 2,25 sen AS per pon.
Menurut Barchat, penguatan harga di kedua bursa terjadi bersamaan, dengan robusta mencapai level tertinggi dalam sekitar satu setengah bulan. Kenaikan ini terutama dikaitkan dengan melemahnya dolar AS (USD) yang memicu aksi beli kembali (short covering) di pasar komoditas, termasuk kopi.
Dari sisi fundamental, penurunan ekspor Brasil turut menopang harga. Berdasarkan data Cecafe, total ekspor biji kopi hijau Brasil pada Desember turun 18,4% menjadi 2,86 juta kantong. Ekspor arabika turun 10% secara tahunan menjadi 2,6 juta kantong, sedangkan ekspor robusta merosot 61% menjadi 222.147 kantong.
Faktor cuaca di Brasil juga menjadi perhatian pasar. Somar Meteorologia melaporkan bahwa pada pekan yang berakhir 16 Januari, curah hujan di Minas Gerais—wilayah penghasil arabika terbesar di Brasil—hanya 33,9 mm atau setara 53% dari rata-rata historis. Kondisi curah hujan yang lebih rendah dari normal ini disebut mendukung pergerakan harga kopi.
Namun, terdapat pula faktor yang menahan kenaikan, yakni pemulihan persediaan kopi yang dipantau Intercontinental Exchange (ICE). Persediaan arabika ICE sempat turun ke level terendah dalam sekitar 1,75 tahun sebesar 398.645 karung pada 20 November, tetapi kemudian pulih ke level tertinggi dalam 2,5 bulan menjadi 461.829 karung pada Rabu lalu.
Pergerakan serupa juga terjadi pada robusta. Persediaan robusta ICE pernah menyentuh titik terendah dalam satu tahun sebesar 4.012 lot pada 10 Desember, sebelum meningkat menjadi 4.609 lot pada Jumat, yang merupakan level tertinggi dalam sekitar 1,75 bulan.
Sementara itu, dari India, The Hindu Businessline mengutip data Dewan Kopi India yang menyebut ekspor kopi India pada 2025 diperkirakan mencapai 384.000 ton dengan nilai lebih dari 2 miliar dolar AS. Angka tersebut menunjukkan penurunan volume 4,47%, tetapi nilai ekspor meningkat 22,5%.
Harga ekspor rata-rata India dilaporkan naik menjadi 465.000 rupee per ton pada 2025, dibandingkan 348.000 rupee per ton pada tahun sebelumnya. Kenaikan harga ini disebut membantu mengimbangi penurunan volume. Dalam peta industri global, India saat ini berada di peringkat ke-7 untuk produksi kopi dan peringkat ke-5 untuk ekspor kopi.
Dari sisi varietas, ekspor arabika India mengalami penurunan paling tajam, turun 65% menjadi 15.607 ton pada 2025 dari 44.315 ton pada 2024. Ekspor robusta juga menurun 13% menjadi sekitar 180.000 ton, dibandingkan sekitar 207.000 ton pada 2024.

