BERITA TERKINI
Harga Bumbu Dapur dan Bahan Pangan Naik, Ibu Rumah Tangga hingga Pemilik Warung Putar Otak

Harga Bumbu Dapur dan Bahan Pangan Naik, Ibu Rumah Tangga hingga Pemilik Warung Putar Otak

TANJUNGPANDAN — Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran dikeluhkan warga, mulai dari bumbu dapur hingga bahan makanan. Kondisi ini dirasakan ibu rumah tangga maupun pemilik warung makan yang harus mencari cara agar pengeluaran tetap terkendali di tengah harga yang terus merangkak naik.

Sunanti, pemilik warung makan di Air Saga, mengatakan kenaikan paling terasa terjadi pada cabai rawit yang kini mencapai Rp16.000 per ons atau sekitar Rp150.000 per kilogram. Selain cabai rawit, ia menyebut komoditas bumbu dapur lain seperti cabai keriting dan bawang merah juga ikut naik.

“Bingung mau menentukan harga, barang-barang di pasar naik, sedangkan orang yang beli mau harganya murah. Harga cabai lah yang paling ngeri, sudah lebih mahal dari harga ayam,” kata Sunanti, Rabu (15/8).

Tidak hanya bumbu dapur, Sunanti menyebut harga daging ayam dan telur ayam juga mengalami kenaikan. Ia mengatakan harga ayam terakhir yang ia lihat di pasar berada di kisaran Rp52.000 per kilogram, meski sudah turun dari harga sebelumnya yang sempat mencapai Rp57.000 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam kini berkisar Rp1.900 hingga Rp2.000 per butir.

Meski biaya belanja semakin besar, Sunanti mengaku tetap menjual dengan harga yang sama dan bertahan dengan keuntungan tipis. “Daripada nganggur, biarlah untung kecil. Berharap saja mudah-mudahan harga di pasar ini turun, biar yang jualan makanan kecil-kecilan seperti kami ini nyaman,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan ibu rumah tangga. Ervina mengatakan kenaikan harga bumbu dapur membuatnya harus mengatur ulang belanja agar tetap cukup. Menurutnya, bumbu seperti bawang dan cabai tetap harus dibeli karena merupakan kebutuhan memasak sehari-hari.

“Mau tidak mau harus dibeli karena kebutuhan. Tidak bisa juga masak tidak pakai bawang dan cabai, palingan pakai sedikit, masak yang bumbunya kurang,” kata Ervina. Ia mengaku menyiasatinya dengan membeli dalam jumlah lebih kecil. “Beli sedikit-sedikit. Terakhir beli cabai tau harganya mahal, beli setengah ons, mudah-mudahan cepat turun,” imbuhnya.

Ibu rumah tangga lainnya, Mini, menyebut kenaikan harga terjadi pada banyak barang. Ia mengatakan minyak goreng, ikan, sayuran, hingga tahu tempe yang biasanya terjangkau ikut mengalami kenaikan. “Jadi bingung mau makan apa, sedangkan ekonomi dari dulu masih gini-gini saja,” ujarnya.

Untuk menekan pengeluaran, Mini mengaku mengatur menu harian agar uang belanja tidak membengkak. Ia memilih memasak bahan yang ada di kebun seperti pepaya dan daun singkong, serta mengganti menu dengan masakan berbumbu lebih sedikit seperti sayur bening dan tumis-tumisan.