BERITA TERKINI
Forkom Dewi Klungkung Dorong Penguatan Promosi Budaya dan Kuliner Desa Wisata

Forkom Dewi Klungkung Dorong Penguatan Promosi Budaya dan Kuliner Desa Wisata

SEMARAPURA—Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom Dewi) Klungkung mendorong agar promosi budaya dan kuliner lokal terus diperkuat. Upaya ini dinilai penting untuk menegaskan identitas desa wisata sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat, seiring kecenderungan wisatawan yang semakin mencari pengalaman autentik berbasis budaya setempat.

Ketua Forkom Dewi Klungkung Ketut Sukadana mengatakan Klungkung memiliki beragam kuliner tradisional dan kekayaan budaya yang layak dikembangkan sebagai daya tarik desa wisata. Menurutnya, potensi tersebut perlu lebih banyak diperkenalkan agar menjadi ciri khas yang membedakan satu desa dengan desa lainnya.

“Selama ini sudah ada ruang yang diberikan, tetapi perlu diperbanyak lagi. Kuliner-kuliner lokal harus lebih sering ditampilkan agar dikenal masyarakat luas, tidak hanya serombotan tetapi juga berbagai kuliner khas lainnya,” ujar Sukadana, Senin (1/6/2026).

Sukadana menilai minat wisatawan saat ini cenderung mengarah pada pengalaman autentik, termasuk menikmati kuliner khas daerah yang memiliki nilai tradisi dan kearifan lokal. Karena itu, makanan tradisional yang berkembang di desa-desa dinilai perlu terus diperkenalkan kepada masyarakat maupun wisatawan.

Selain memperkuat identitas desa wisata, promosi budaya dan kuliner lokal juga dipandang berpotensi memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM dan usaha kuliner di desa-desa.

Di luar kuliner, Sukadana juga mendorong promosi tradisi dan budaya unik di desa-desa Klungkung agar dilakukan lebih intens. Ia menilai kekayaan budaya yang masih lestari memiliki potensi besar menjadi daya tarik wisata berbasis budaya.

“Jangan sampai kita memiliki budaya yang bagus tetapi tidak terlihat. Saya bangga ketika budaya lokal bisa dikenal oleh masyarakat luas. Contohnya, kami mendorong tampilnya kelompok Genjek Gita Sunari dari Desa Wisata Manduang pada Festival Semarapura VII akhir April lalu,” katanya.

Sukadana menambahkan, kesenian genjek yang sempat vakum cukup lama kini mulai bangkit melalui kolaborasi Forkom Dewi dengan Sanggar Seni Wijaya Kusuma. Ia menyebut sejumlah tradisi yang masih hidup di berbagai desa memiliki keunikan tersendiri dan dapat menjadi identitas pembeda antarwilayah. Potensi tersebut, menurutnya, perlu terus diangkat untuk memperkuat daya tarik desa wisata di Klungkung.

Sukadana juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah yang selama ini telah memberi ruang bagi pelaku desa wisata, UMKM, dan komunitas budaya untuk tampil dalam berbagai kegiatan. Salah satunya melalui penyediaan stan bagi pelaku usaha kuliner serta kelompok masyarakat dalam sejumlah kegiatan promosi di Klungkung.

Ia menegaskan Forkom Dewi merupakan organisasi non-profit yang terus berupaya berkontribusi mendorong kemajuan desa wisata meski memiliki keterbatasan sumber daya. Menurutnya, program dan kegiatan yang dilaksanakan selama ini tidak lepas dari dukungan pemerintah daerah, desa wisata, pelaku usaha, serta pihak lain, termasuk Rumah Sakit Grha Bhakti Medika, BPD Bali Cabang Klungkung, Bank Nusamba Manggis, hingga Gantangan Sari Karya Akah.

“Kami tidak berorientasi bisnis. Yang kami lakukan adalah bagaimana potensi desa, baik budaya, kuliner maupun sektor lainnya, bisa terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Sukadana.

Ke depan, Forkom Dewi berharap kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku usaha dapat terus diperkuat. Dengan dukungan berbagai pihak, promosi potensi desa wisata di Klungkung diyakini dapat lebih optimal sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah perkembangan sektor pariwisata.

Sejalan dengan itu, Bupati Klungkung I Made Satria menegaskan desa wisata merupakan wajah asli tradisi dan budaya Bali yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Pernyataan itu disampaikan saat peringatan HUT ke-6 Forkom Dewi, Jumat (29/5/2026). Menurut Satria, pengelolaan desa wisata tidak hanya bertujuan melestarikan warisan budaya, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai luhur kepada masyarakat luas sekaligus menjadi penggerak perekonomian desa.