Pandemi Covid-19 membawa dampak besar bagi banyak perusahaan dan pekerja, termasuk Nadia, pegawai swasta di Jakarta. Di tengah kondisi ekonomi yang menantang, ia mencari tambahan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Dari situ, Nadia merintis usaha bumbu dapur racikan sendiri dengan merek Foodganic.
Foodganic lahir pada Juni 2020. Nadia memulai produksi dengan peralatan sederhana, yakni kompor milik mertuanya dan blender hadiah pernikahan. Ia memilih menjual bumbu dapur siap pakai karena melihat produk semacam itu dapat membantu ibu rumah tangga, termasuk mereka yang tidak memiliki banyak keahlian memasak, saat ingin menyiapkan makanan untuk keluarga.
Untuk pemasaran, Nadia sejak awal memutuskan berjualan secara daring melalui lokapasar Shopee. Menurutnya, proses pendaftaran hingga mengunggah produk relatif mudah bagi pebisnis baru. Pada pekan pertama, pesanan masih terbatas. Namun seiring waktu, permintaan meningkat hingga Foodganic mampu memproduksi rata-rata 2.000–3.000 botol bumbu per bulan.
Nadia juga memanfaatkan sejumlah fitur promosi di platform tersebut, seperti iklan Shopee, Collaborative Performance Advertising Solution (CPAS) Shopee, serta Shopee Affiliate Program. CPAS Shopee disebut sebagai fitur iklan yang memungkinkan penjual menjalankan promosi produk di media sosial dengan memanfaatkan data kunjungan dari Shopee. Pada momen tertentu seperti Ramadhan, Nadia mengatakan pesanan dapat naik hingga 300 persen.
Ketika bisnis berkembang, Nadia memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan fokus mengembangkan Foodganic. Jika pada awalnya produksi hanya dibantu suami, kini ia dibantu delapan karyawan yang mayoritas berasal dari lingkungan sekitar rumahnya. Nadia juga menggandeng ibu-ibu di sekitar rumah produksi untuk bekerja di dapur Foodganic.
Dari sisi bahan baku, Nadia menyebut pasokan diperoleh dari petani lokal, antara lain dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Saat harga bahan baku naik, ia memilih mengurangi porsi keuntungan ketimbang menaikkan harga jual. Foodganic menawarkan beberapa jenis bumbu, seperti bumbu dasar putih berbahan bawang-bawangan, bumbu dasar kuning yang mengandung kunyit, dan bumbu dasar merah seperti cabai-cabaian, dengan harga Rp 35.000 hingga Rp 40.000 per produk.
Nadia menyatakan produk Foodganic dibuat tanpa MSG, tanpa pengawet, dan tanpa pewarna, serta menggunakan bahan baku premium. Untuk menjaga kualitas, proses produksi dikelola secara mandiri melalui dapur khusus yang higienis dan bersertifikasi BPOM, dengan konsep clean production. Setiap rempah dipilih secara selektif, dibersihkan, dikeringkan alami, lalu diolah tanpa tambahan bahan pengawet.
Meski memiliki mimpi untuk menembus pasar ekspor, Nadia mengatakan saat ini ia masih fokus pada pasar domestik. Menurutnya, pasar bumbu dapur di dalam negeri masih luas dan menjanjikan, sehingga menjadi prioritas pengembangan Foodganic untuk saat ini.

