Festival Budaya, Olahraga, dan Pariwisata Kelompok Etnis Pegunungan pertama digelar pada 29–31 Mei di komune A Luoi 1, A Luoi 2, dan A Luoi 3, Kota Hue. Kegiatan ini diarahkan untuk menghormati serta mempromosikan keunikan budaya, termasuk kuliner khas, sekaligus memperkuat solidaritas di antara kelompok etnis yang tinggal di wilayah pegunungan.
Festival tersebut diikuti hampir 600 pengrajin, seniman amatir, aktor, dan atlet dari 11 komune serta kelurahan yang memiliki penduduk etnis minoritas. Beragam agenda budaya, olahraga, dan pariwisata digelar, termasuk ruang pamer kerajinan tangan tradisional dan produk khas OCOP di Alun-Alun serta Pusat Kebudayaan Etnis Komune A Luoi 2.
Sejumlah pengrajin turut mendemonstrasikan keterampilan mereka di hadapan pengunjung. Tran Duc Dung, pengrajin dari Desa Pa Ring 2, Komune A Luoi 1, mengatakan setiap kelompok etnis memiliki ciri khas kerajinan masing-masing. Menurutnya, kesempatan memperagakan teknik tenun tradisional kepada wisatawan membantu pengrajin untuk saling belajar, memperluas jejaring, mengasah keterampilan, sekaligus mengenalkan kerajinan lokal.
Selain pameran, festival juga menghadirkan kompetisi kuliner dataran tinggi dan pasar yang memperkenalkan makanan khas setempat. Tetua Ho Nhat Tan dari Dusun Po Nghi 1, Komune A Luoi 2, menyebut antusiasme warga meningkat karena festival berlangsung di tengah penerapan model pemerintahan lokal dua tingkat yang membuka fase pembangunan dengan peluang dan tuntutan baru. Ia menilai partisipasi Komune A Luoi 2 dalam kompetisi kuliner bukan hanya ajang memperkenalkan tradisi, tetapi juga sarana agar generasi muda memahami warisan leluhur, memperkuat persatuan antarkelompok etnis, serta mempromosikan kuliner kepada wisatawan.
Ketua Komite Rakyat Komune A Luoi 2, Phan Duy Khanh, menilai festival sebagai kegiatan budaya bermakna yang telah dilestarikan selama bertahun-tahun dan menjadi salah satu agenda utama bagi etnis minoritas di wilayah pegunungan. Ia menyebut acara ini membuka ruang pertemuan dan pertukaran antarmasyarakat sekaligus memperkenalkan citra, budaya, dan potensi pembangunan daerah pegunungan Kota Hue.
Upaya promosi pariwisata juga dilakukan dalam rangkaian festival. Komite Rakyat Komune A Luoi 1 berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata untuk memperkenalkan destinasi, wisata eksplorasi, ekowisata, dan pariwisata berbasis komunitas di wilayah A Luoi. Ketua Komite Rakyat Komune A Luoi 1, Nguyen Van Hai, mengatakan promosi tersebut memberi pengalaman unik bagi wisatawan dan berkontribusi pada penguatan merek pariwisata A Luoi, sekaligus menjadi pengungkit perubahan struktur ekonomi, penciptaan mata pencaharian berkelanjutan, dan peningkatan pendapatan warga.
Di sisi lain, wilayah tersebut tengah menyiapkan Proyek Pengembangan Pariwisata Komune A Luoi 1 untuk periode 2026–2030 dengan visi hingga 2045. Proyek ini ditujukan untuk mengarahkan pengembangan pariwisata berkelanjutan dengan memanfaatkan potensi lanskap alam, budaya tradisional, dan pariwisata berbasis komunitas. Sejumlah lokasi telah disurvei, antara lain waduk PLTA A Lin, Dốc Con Mèo, Ra Ka, aliran sungai A Lin, serta lokasi wisata komunitas A Nôr, sembari mendorong rumah tangga yang memiliki sumber daya untuk menyediakan akomodasi, makanan, serta pengalaman budaya dan ekologi.
Penguatan peran Koperasi Pariwisata Komunitas A Nor dan Koperasi Pariwisata Komunitas A Lin juga direncanakan untuk menjadi titik fokus koordinasi kegiatan pariwisata. Pemerintah setempat turut menargetkan integrasi sumber daya dari berbagai program dan proyek pembangunan sosial ekonomi di daerah minoritas etnis dan pegunungan guna memperbaiki lanskap, membangun lingkungan pariwisata yang hijau, bersih, dan ramah, serta membentuk destinasi wisata komunitas yang terkait dengan pelestarian ruang budaya tradisional masyarakat Pa Co.
Direktur Departemen Kebudayaan dan Olahraga Kota Hue, Phan Thanh Hai, menyebut kawasan barat Kota Hue dengan A Luoi sebagai pusatnya dikenal sebagai ruang budaya unik tempat nilai tradisional kelompok etnis Pa Co, Ta Oi, Co Tu, Pa Hy, dan Bru-Van Kieu bertemu dan dilestarikan. Ia menegaskan festival menjadi kesempatan memperkenalkan kerajinan tradisional, mempromosikan ekowisata dan wisata komunitas, serta mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan yang terkait dengan pelestarian budaya.

