Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama BTN akan menggelar festival pangan bertajuk “Akulturasa” yang menampilkan kuliner fermentasi tradisional dalam format sajian fine dining, dengan memanfaatkan teknologi fermentasi terbaru yang dikembangkan di ITB.
Wakil Rektor bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi ITB, Andryanto Rikrik Kusmara, mengatakan ajang ini sekaligus menjadi pameran hilirisasi riset pangan dari empat fakultas lintas disiplin di ITB. Menurutnya, festival tersebut mempertemukan sains, teknologi, seni, dan budaya.
“Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa sains dan teknologi memiliki banyak inspirasi untuk pengolahan dan ketahanan pangan. Hasil karya peneliti dan mahasiswa tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus berdampak langsung bagi ekonomi masyarakat,” ujar Andryanto di kawasan Kampus Ganesha ITB, Bandung, Selasa.
Salah satu agenda utama festival ini adalah “Fermen Station”, jamuan makan malam bersama yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juni malam. Dalam sesi fine dining delapan tahap atau 8-course dinner tersebut, berbagai kuliner seperti tape dan jahe fermentasi yang telah melalui kurasi ketat akan disajikan, disertai penjelasan mengenai teknologi di balik proses pembuatannya.
Andryanto menjelaskan, agenda fine dining tersebut bersifat terbatas karena juga dimaksudkan sebagai ruang diskusi strategis bersama mitra perbankan dan pemerintah. Namun, masyarakat luas tetap dapat menghadiri festival utama serta sesi mencicipi makanan secara gratis di area lapangan depan Aula Kampus Ganesha.
Ia menekankan semangat kolaborasi dalam festival ini, terutama dengan mitra perbankan dan pemerintah daerah, untuk memperkuat ketahanan pangan serta industri kreatif kuliner. ITB juga mengundang pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar dapat memanfaatkan teknologi fermentasi yang dimiliki kampus tersebut untuk meningkatkan nilai ekonomi produk.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat, Iendra Sofyan, menyambut baik penyelenggaraan festival tersebut. Ia menilai sentuhan teknologi fermentasi modern penting untuk mendorong hilirisasi komoditas pertanian lokal Jawa Barat agar tidak hanya dijual sebagai bahan baku mentah.
“Sentuhan teknologi ini sangat mendukung pengembangan gastronomi kita dan membantu UMKM naik kelas ke arah industri. Contohnya ubi cilembu, kalau hanya dibakar itu biasa, tapi mungkin dengan teknologi fermentasi di ITB, nilainya akan jauh lebih bervariasi dan bernilai tambah tinggi,” ujar Iendra.
Disparbud Jawa Barat juga melihat potensi festival ini sebagai daya tarik wisata kuliner berbasis cerita atau storytelling. Narasi yang menggabungkan sains dan budaya dinilai dapat memperkuat pelestarian kuliner lokal, terlebih Jawa Barat mencatatkan hingga 200 warisan budaya takbenda (WBTB) pada 2025.
Ke depan, ITB dan Disparbud Jawa Barat memproyeksikan festival pangan berbasis riset ini dapat disiapkan dalam skala yang lebih masif, sehingga berpeluang menjadi agenda tahunan baru bagi kepariwisataan dan inovasi di Jawa Barat.

