Sejarah politik dunia kerap digambarkan sebagai panggung yang didominasi laki-laki. Namun, di berbagai negara, sejumlah perempuan berhasil menembus batas budaya, sistem patriarki, hingga tekanan politik yang ekstrem. Mereka menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh visi, keteguhan, dan keberanian mengambil risiko.
Berikut enam tokoh perempuan yang dinilai berpengaruh dalam sejarah politik dunia, beserta jejak kepemimpinan dan dampak yang mereka tinggalkan bagi negaranya.
1. Corazon Aquino
Corazon Aquino mencatat sejarah sebagai presiden perempuan pertama Filipina pada 1986. Ia naik ke panggung politik setelah memimpin gerakan rakyat yang dikenal sebagai People Power Revolution, di tengah gelombang penolakan terhadap rezim otoriter Ferdinand Marcos.
Selama menjabat, Aquino menghadapi situasi yang tidak mudah, mulai dari ekonomi yang rapuh, kondisi militer yang belum sepenuhnya loyal, hingga luka politik akibat pemerintahan diktator sebelumnya. Meski masa kepemimpinannya penuh gejolak, ia dikenang karena upayanya memulihkan demokrasi konstitusional dan kebebasan pers di Filipina.
2. Angela Merkel
Angela Merkel menjadi kanselir perempuan pertama Jerman, menjabat sejak 2005 hingga 2021. Berlatar belakang ilmuwan fisika, Merkel dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tenang, rasional, dan berbasis data.
Di bawah kepemimpinannya, Jerman melewati sejumlah krisis besar, termasuk krisis ekonomi global, krisis pengungsi di Eropa, serta pandemi COVID-19. Keputusan-keputusannya kerap memicu pro dan kontra, tetapi Merkel dipandang sebagai figur penting dalam menjaga stabilitas Uni Eropa.
3. Sanae Takaichi
Sanae Takaichi disebut mencatatkan namanya sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang, sebuah capaian besar di negara yang dikenal memiliki budaya politik maskulin. Ia dikenal sebagai politisi konservatif dengan pandangan tegas, terutama terkait keamanan nasional dan reformasi ekonomi.
Kehadirannya dinilai menandai perubahan dalam lanskap politik Jepang yang lama didominasi laki-laki. Kepemimpinannya juga memicu perdebatan luas, baik di dalam negeri maupun internasional, sekaligus membuka ruang diskusi lebih besar mengenai peran perempuan dalam politik Jepang.
4. Sirimavo Bandaranaike
Sirimavo Bandaranaike memegang catatan sejarah sebagai perdana menteri perempuan pertama di dunia. Ia mulai menjabat di Sri Lanka pada 1960, menjadikannya pelopor bagi kepemimpinan perempuan di tingkat pemerintahan.
Selama masa kepemimpinannya, Sirimavo menghadapi tantangan seperti konflik etnis, krisis ekonomi, dan tekanan geopolitik. Meski kerap menuai kritik, posisinya sebagai perempuan pertama di jabatan tertinggi pemerintahan dipandang membuka jalan bagi perempuan lain di berbagai negara.
5. Indira Gandhi
Indira Gandhi dikenal sebagai salah satu tokoh perempuan paling kontroversial dalam sejarah politik dunia. Ia menjadi perdana menteri perempuan pertama—dan hingga kini satu-satunya—di India. Putri dari Jawaharlal Nehru ini dikenal dengan gaya kepemimpinan yang kuat dan sentralistik.
Di masa pemerintahannya, India mengalami perubahan besar, termasuk nasionalisasi bank dan penguatan posisi India di panggung internasional. Namun, kebijakan seperti penerapan Emergency juga memicu kritik keras. Terlepas dari pro dan kontra, Indira tetap dikenang sebagai pemimpin yang berani mengambil keputusan besar dalam situasi sulit.
6. Margaret Thatcher
Margaret Thatcher, yang dijuluki Iron Lady, merupakan perdana menteri perempuan pertama Inggris. Ia dikenal karena gaya kepemimpinan yang tegas, bahkan keras, dan memimpin Inggris selama lebih dari satu dekade.
Thatcher membawa perubahan besar dalam kebijakan ekonomi melalui privatisasi, deregulasi, dan pendekatan pasar bebas. Kebijakannya menuai kritik tajam, terutama dari kalangan kelas pekerja, tetapi ia juga dianggap mengubah wajah ekonomi Inggris. Sosoknya kerap dijadikan contoh bahwa perempuan dapat memimpin dengan ketegasan yang setara dengan pemimpin laki-laki.
Keenam tokoh ini menunjukkan bagaimana perempuan dapat mengambil peran penting di tengah dunia politik yang sering kali tidak ramah bagi mereka. Tekanan budaya, sosial, dan politik menjadi bagian dari perjalanan, tetapi mereka tetap maju dan memimpin, meninggalkan jejak yang memengaruhi arah negara masing-masing.

