BERITA TERKINI
Ekspor Jamu Jawa Tengah Tembus USD 24,6 Juta, Pemerintah Soroti Tantangan Bahan Baku

Ekspor Jamu Jawa Tengah Tembus USD 24,6 Juta, Pemerintah Soroti Tantangan Bahan Baku

Kinerja ekspor jamu dari Jawa Tengah mencatat capaian positif dengan nilai mencapai 24,6 juta dolar AS (USD) hingga akhir 2025. Nilai tersebut setara 0,22 persen dari total ekspor nonmigas Jawa Tengah.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah, July Emmylia, menyampaikan capaian itu di sela Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI ke lingkungan industri PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk di Ungaran, Jumat, 23 Januari 2026. Kunjungan tersebut turut dihadiri Kepala LPP RRI Semarang Atik Hindari dan Kepala LPP TVRI Jawa Tengah Sanny April Linda Damanik.

Emmylia mengatakan, produk jamu Jawa Tengah telah menembus berbagai pasar internasional, antara lain Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, hingga negara-negara di Asia. Komoditas yang dikirim mencakup jamu tradisional, ekstrak jahe, bubuk kunyit, tolak angin, serta beragam produk herbal lainnya.

Menurut Emmylia, capaian ekspor ini didukung kuatnya basis industri manufaktur di Jawa Tengah. Sektor tersebut tercatat menyumbang Rp170 triliun atau 33,4 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada triwulan III 2025.

Ia menambahkan, dukungan kebijakan seperti kemudahan perizinan usaha dan kebijakan lain untuk memperbaiki iklim investasi turut memperkuat kinerja industri. Selain itu, potensi sumber daya alam yang melimpah serta infrastruktur perhubungan modern disebut menjadi faktor pendukung.

Meski begitu, Emmylia menilai industri jamu di Jawa Tengah masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait kualitas dan konsistensi bahan baku. Persaingan pasar, pemasaran global, serta pemenuhan standar internasional juga dinilai perlu terus dipercepat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, ia menyebut pemerintah daerah mendorong kolaborasi antara industri, akademisi, dan pelaku usaha guna memperkuat inovasi dan efisiensi produksi. Targetnya, ekspor Jawa Tengah dapat meningkat dan semakin mampu bersaing di pasar dunia.

Emmylia juga berharap kunjungan kerja Komisi VII DPR RI ke Sido Muncul dapat memperkuat komitmen bersama dalam pengembangan industri jamu. Ia menilai penguatan sektor ini diharapkan berdampak pada kesejahteraan petani bahan baku, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekonomi daerah.

Sementara itu, Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI, Evita Nursanti, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan untuk “belanja masalah” di bidang industri. Namun, ia menilai industri jamu di Jawa Tengah, khususnya Sido Muncul, tidak menghadapi kendala berarti.

Evita menyebut perusahaan telah menggunakan energi terbarukan sehingga dapat dikategorikan sebagai industri hijau. Ia juga menyoroti kemajuan teknologi di perusahaan tersebut yang dinilainya tidak berdampak pada pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.