PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali menegaskan peran strategis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai fondasi utama keuangan berkelanjutan di negara berkembang. Penegasan itu disampaikan Direktur Utama BRI Hery Gunardi dalam forum Indonesia Pavilion pada World Economic Forum (WEF) Davos 2026 di Swiss.
Forum bertajuk Capital for Sustainability: Unlocking Sustainable Finance and Growth in Emerging Markets menghadirkan pemangku kepentingan global dari sektor keuangan dan media internasional. Diskusi tersebut membahas arah pembiayaan berkelanjutan di tengah tantangan pertumbuhan ekonomi global.
Dalam pemaparannya, Hery menekankan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian di negara berkembang. Ia menyebut lebih dari 90% unit usaha berasal dari sektor ini dan berkontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, serta ketahanan ekonomi masyarakat.
Meski demikian, ia menilai peran UMKM dalam agenda keberlanjutan global masih belum memperoleh perhatian yang sepadan. Menurutnya, tanpa keterlibatan UMKM, transformasi menuju ekonomi hijau dan inklusif akan sulit tercapai secara menyeluruh.
“Sejak awal berdiri hingga di usianya yang kini menginjak 130 tahun, BRI memang didesain untuk melayani segmen mikro dan UMKM. Komitmen tersebut tetap menjadi fondasi utama BRI. Karena itu, kami sangat senang dapat berada di WEF Davos 2026 untuk membahas isu keuangan berkelanjutan yang sejalan dengan apa yang telah kami jalankan selama ini,” ujar Hery.
Ia juga menyampaikan bahwa keberlanjutan di negara berkembang tidak lagi cukup diposisikan sebagai visi jangka panjang, melainkan memerlukan eksekusi nyata. Tantangannya, kata dia, adalah memastikan pembiayaan berkelanjutan dapat disalurkan secara aman, efisien, dan dalam skala besar kepada sektor yang paling membutuhkan.
BRI, yang disebut sebagai bank UMKM terbesar di negara berkembang, menggabungkan prinsip inklusi keuangan, pembiayaan produktif, dan keberlanjutan dalam proses bisnis harian. Hery menegaskan, keuangan berkelanjutan bagi BRI bukan program tambahan, melainkan bagian integral dari aktivitas pembiayaan jutaan pelaku usaha.
“Tidak akan ada transisi hijau yang berhasil dan tidak akan ada pertumbuhan yang inklusif tanpa UMKM yang ikut bergerak maju bersama. Keberlanjutan yang sesungguhnya terjadi ketika pembiayaan menjangkau desa-desa, petani, serta pelaku usaha mikro di Indonesia,” ucapnya.
Eksekusi lokal untuk dampak global
Dalam diskusi tersebut, Hery juga menyoroti meningkatnya tuntutan global terhadap kualitas implementasi pembiayaan berkelanjutan. Fokus, menurutnya, tidak lagi berhenti pada komitmen, tetapi bergeser pada dampak, transparansi, dan akuntabilitas pelaksanaan di lapangan.
Ia menilai keberhasilan keuangan berkelanjutan sangat bergantung pada kemampuan institusi lokal dalam menjangkau sektor riil. Tanpa dukungan bank nasional yang kuat, pembiayaan berkelanjutan berisiko berhenti pada tataran konsep.
“BRI sendiri menjalankan peran sebagai anchor bank, dengan menjalin kemitraan bersama pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, serta lembaga multilateral untuk menyalurkan pembiayaan campuran kepada pelaku UMKM. Tanpa dukungan institusi lokal yang kuat, pembiayaan berkelanjutan berisiko hanya berhenti pada tataran konsep, tanpa memberikan dampak nyata di lapangan,” ujar Hery.
Pendekatan blended finance tersebut, lanjutnya, memungkinkan UMKM memperoleh akses pembiayaan yang lebih luas dengan struktur risiko yang terkelola, sekaligus mendorong partisipasi investor global untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di tingkat akar rumput.
Digitalisasi juga disebut menjadi elemen penting untuk memperluas jangkauan pembiayaan berkelanjutan. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat membuat penyaluran kredit lebih efisien dan transparan, serta menjangkau pelaku usaha hingga wilayah terpencil.
BRI memanfaatkan digitalisasi untuk mendukung penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) hingga segmen mikro. Teknologi, menurut Hery, memungkinkan pemantauan dampak pembiayaan sekaligus meningkatkan literasi keuangan pelaku UMKM.
Hingga September 2025, porsi kredit UMKM konsolidasian BRI tercatat mencapai 80,02% dari total portofolio kredit, setara Rp1.150 triliun.
Selain pembiayaan, BRI juga memperluas dampak melalui program pengembangan kapasitas UMKM. Program Desa BRILiaN, Klasterku Hidupku, dan platform LinkUMKM disebut menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan yang terintegrasi.
BRI menyatakan berbagai inisiatif tersebut telah dimanfaatkan oleh lebih dari 14,98 juta pelaku UMKM di seluruh Indonesia. Pendekatan ini menegaskan bahwa keuangan berkelanjutan tidak hanya terkait pembiayaan hijau, tetapi juga pembangunan ekonomi yang inklusif.
Melalui partisipasi di WEF Davos 2026, BRI menempatkan UMKM Indonesia dalam percakapan global mengenai masa depan keuangan berkelanjutan. Dengan menjadikan UMKM sebagai pusat strategi, BRI menyatakan optimistis keuangan berkelanjutan dapat memberi dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi, pengurangan kesenjangan, serta ketahanan ekonomi jangka panjang.

