Pandemi COVID-19 membuat banyak pelaku usaha kehilangan mata pencaharian, termasuk Hikma Nurul Audhliya yang saat itu bekerja sebagai makeup artist (MUA). Ketika agenda pernikahan dibatalkan massal pada akhir 2020, pekerjaannya berhenti total. Hikma mengaku harus menutup bisnisnya dan menjual sejumlah aset untuk menutup kewajiban ganti rugi kepada vendor dengan nilai di bawah Rp 100 juta.
“Akhir tahun 2020, semua pesanan pernikahan dibatalkan begitu saja karena pandemi. Padahal uang muka sudah masuk ke vendor dekorasi, tenda, dan bunga. Akhirnya, semua terpaksa dijual, baju-baju juga, alat makeup pun dijual. Intinya, saya harus menutup bisnis itu, sudah pasrah,” kata Hikma saat ditemui di kawasan Tebet, Jakarta.
Dalam kondisi ekonomi yang sulit, Hikma mulai mencari peluang baru. Ia mengikuti program Kartu Prakerja dan setelah sempat gagal di gelombang pertama, ia berhasil lolos pada kesempatan berikutnya. Dari program tersebut, Hikma memperoleh voucher pelatihan usaha senilai Rp 1 juta. Awalnya ia memilih kelas makeup dengan harapan sektor hiburan dan pernikahan segera pulih, tetapi kemudian mengalihkan fokus ke pelatihan usaha yang dianggap lebih praktis.
Ia memutuskan merintis usaha olahan sayuran, khususnya salad, dengan pertimbangan tidak membutuhkan kompor serta minim penggunaan minyak dan gas. “Saat itu, saya berpikir, usaha apa yang tidak memerlukan kompor, praktis, mudah, tanpa minyak dan gas, namun tetap memenuhi kebutuhan masyarakat modern yang semakin peduli kesehatan. Akhirnya, saya memilih salad sayur,” ujarnya.
Hikma memulai usahanya dari dapur rumah. Modal awal Rp 2,4 juta dari program Kartu Prakerja—yang diterima bertahap selama empat bulan sebesar Rp 600 ribu per bulan—dipakai untuk membeli bahan baku dan peralatan sederhana. Seiring berjalan, ia melengkapi kebutuhan produksi seperti chopper, blender, aneka kemasan, hingga lemari pendingin (showcase). Usaha itu kemudian dikenal dengan nama Salad Umma.
Lokasi usaha yang dekat kawasan indekos karyawan membantu Salad Umma menemukan pasar. Berawal dari salad sayur, Hikma menambah produk salad buah pada 2022 setelah menerima pesanan untuk acara ulang tahun. Meski demikian, perjalanan usaha tidak selalu mulus. Omzet sempat naik turun meski sudah memanfaatkan pemesanan daring dan promosi media sosial. Pada hari tertentu, pendapatan hanya sekitar Rp 15 ribu dan bisa naik menjadi Rp 100 ribu, bahkan ada masa tanpa pesanan.
Titik balik mulai terasa setelah produk Salad Umma memperoleh sertifikasi halal dan Hikma aktif mengikuti bazar Jakpreneur. Dari kegiatan tersebut, jejaring usahanya meluas dan mendatangkan pesanan rutin, termasuk untuk rapat kementerian dan pemerintah daerah. Sejak itu, omzet harian disebut mencapai Rp 1 juta per hari.
Ketika permintaan meningkat, Hikma menilai bisnisnya sulit berkembang bila hanya mengandalkan dapur rumah. Ia menyebut kondisinya sebagai “invisible retail”, yakni usaha yang berjalan di ranah daring tanpa kehadiran fisik yang jelas. Pada 2025, ia mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) ke BRI Unit Tebet Barat dan memperoleh pinjaman Rp 100 juta. Dana tersebut digunakan untuk mengubah area carport rumah menjadi gerai Salad Umma.
Menurut Hikma, keberadaan gerai membuat usaha lebih mudah dijangkau pelanggan dan meningkatkan kepercayaan konsumen. “Kemudahan ini sangat terasa. Selain itu, kepercayaan masyarakat juga berbeda setelah saya memiliki gerai fisik. Pesanan pun semakin meningkat,” katanya.
Setelah memiliki gerai, ia menyebut omzet yang sebelumnya rata-rata maksimal Rp 1 juta per hari meningkat menjadi Rp 2–3 juta per hari. Pada momen Ramadan tahun lalu, penjualan disebut melonjak dengan banyaknya pesanan bingkisan (hampers) hingga omzet mencapai Rp 6 juta per hari. Hikma menilai pembukaan gerai pada September 2025 menjadi langkah yang tepat karena membuat persiapan produksi dan ritme pelanggan lebih terbaca menjelang Ramadan.
Ia juga menyampaikan bahwa sebelum memiliki gerai, timnya kerap menolak pesanan karena produksi dibuat berdasarkan pesanan. Setelah gerai berdiri, pelanggan yang lewat dapat mampir dan pesanan dalam jumlah besar dapat dilayani bergantung pada ketersediaan stok bahan, baik untuk diambil langsung maupun dikirim.
Hikma menyampaikan apresiasi kepada BRI, termasuk Mantri BRI Unit Tebet Barat, Nicko Irawan, yang disebut mendampingi pengembangan usahanya hingga menjadi binaan BRI. “Saya mengenal Pak Nicko (Mantri BRI) di bank, dan beliau membantu mengarahkan saya untuk meningkatkan skala usaha. Pak Nicko yang terus mendampingi dan mendorong saya untuk naik kelas,” ujarnya.
Seiring pertumbuhan usaha, Salad Umma juga membuka peluang kerja bagi warga sekitar. Hikma mempekerjakan mahasiswa kewirausahaan untuk membantu saat momen ramai, termasuk ketika mengikuti bazar di beberapa lokasi dalam sehari. Ia menyebut suaminya merupakan dosen di Universitas Saintek Muhammadiyah, Ciracas, sehingga memudahkan akses mahasiswa yang ingin mendapatkan pengalaman praktik.
Selain mahasiswa, ia juga melibatkan warga sekitar, salah satunya Hera Chaerunisa, istri marbot masjid di lingkungan rumahnya, yang membantu operasional gerai termasuk pemilihan bahan baku. Hikma menekankan pentingnya kualitas bahan yang konsisten dengan memilih pemasok premium agar daya tahan produk terjaga. Menurutnya, bahan dari pasar tradisional tidak selalu datang dalam kondisi terbaik dan dapat memengaruhi kualitas produk.
Nicko Irawan membenarkan bahwa Hikma merupakan nasabah BRI. Ia menjelaskan pendampingan bermula ketika Hikma datang ke kantor unit untuk mengajukan peningkatan usaha. BRI kemudian melakukan survei lapangan untuk memverifikasi kebutuhan dan menilai potensi bisnis, sebelum menyetujui pengajuan dengan proses yang disebut berlangsung dua hingga tiga hari. Nicko berharap Salad Umma terus berinovasi agar dapat berkembang lebih luas. “Kami berharap Salad Umma terus berinovasi dalam produk-produknya, dan semoga usahanya semakin berkembang di masa depan,” ujarnya saat dihubungi.
Dalam konteks lebih luas, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyatakan komitmennya memperkuat UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional dan menjadi penyalur utama KUR. Secara konsolidasi, total aset BRI tercatat Rp 2.250 triliun pada akhir Maret 2026, tumbuh 7,2% secara tahunan. Hingga kuartal I-2026, total kredit BRI mencapai Rp 1.562 triliun atau tumbuh 13,7% yoy, dengan penyaluran ke segmen UMKM mencapai Rp 1.211 triliun.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyatakan segmen UMKM tetap menjadi pilar utama portofolio pembiayaan BRI. “Segmen UMKM tetap menjadi pilar utama dalam portofolio pembiayaan BRI,” ujarnya dalam konferensi pers Kinerja Keuangan Triwulan I 2026 di Kantor Pusat BRI.

