Peluang bisnis kuliner dinilai terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap makanan siap saji yang praktis dan memiliki cita rasa unik. Momentum tersebut dimanfaatkan Fury Maru, pelaku UMKM yang menghadirkan dimsum premium dengan pilihan saus mentai, truffle, dan cheese.
Dalam program Juragan Jaman Now Season 5, Founder Fury Maru Manda Eka Kumala memperkenalkan konsep usaha yang mengandalkan bahan baku premium serta inovasi produk berupa dimsum cake. Produk ini disebut ditujukan sebagai opsi hadiah ulang tahun maupun hampers.
“Fury Maru memproduksi dimsum dengan topping saus mentai, saus truffle, dan saus cheese. Dibuat dari bahan baku premium sehingga menghadirkan tekstur dimsum yang meaty, juicy, bertemu dengan saus yang creamy, rich, dan punya aftertaste smoky,” ujar Manda dalam tayangan Juragan Jaman Now Metro TV, dikutip Senin, 13 Juli 2026.
Manda menjelaskan, ide dimsum cake muncul dari permintaan pelanggan yang menginginkan sajian dimsum dengan tampilan lebih menarik untuk berbagai momen spesial.
Dalam presentasinya, Manda menyampaikan Fury Maru membukukan omzet Rp380 juta pada 2024 dengan net profit sekitar 20 persen. Ia juga mengungkapkan rencana untuk kembali membuka outlet di kawasan Blok M, Jakarta, yang membutuhkan tambahan pendanaan Rp125 juta.
Panelis Rex Marindo menilai Fury Maru memiliki peluang berkembang, namun menekankan pentingnya menentukan arah bisnis yang lebih jelas, apakah akan fokus mengembangkan outlet atau memperkuat pasar business to business (B2B). Menurut Rex, Fury Maru memiliki produk saus maupun dimsum yang berpotensi dipasarkan sebagai pemasok bagi pelaku usaha lain.
“Memilih bikin outlet dengan memilih untuk bermain B2B itu dua hal yang berbeda sekali,” kata Rex. Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan outlet memiliki tantangan operasional berbeda dibanding bisnis pemasok, serta menilai proposal bisnis dan proyeksi keuangan masih perlu dipersiapkan lebih matang sebelum ekspansi.
Panelis Irwan Mussry turut menyoroti bahwa keberhasilan bisnis kuliner tidak semata ditentukan lokasi. Ia berpendapat, produk berkualitas akan tetap dicari konsumen.
“Saya percaya kalau produknya sangat bagus, orang akan datang ke produknya di mana pun lokasi yang ada,” ujar Irwan. Ia juga mengingatkan agar Fury Maru memperkuat fondasi bisnis sebelum memutuskan relokasi outlet.
Dari sisi komunikasi merek, panelis Reino Barack menilai pesan branding Fury Maru masih perlu diperjelas. Menurutnya, slogan “saus juara” berpotensi membuat konsumen bingung mengenai produk utama yang ditawarkan.
“Jual dimsum apa saus atau sebetulnya apa sih? jadi mungkin dari segi komunikasinya brandingnya perlu diperjelas dikit,” kata Reino. Menanggapi hal itu, Manda menjelaskan Fury Maru memang ingin menonjolkan keunggulan saus mentai sebagai pembeda. “Mentainya kan saus. Jadi kita bold -nya di sausnya juara. Karena Dimsum Mentai, bukan dimsum original yang tanpa saus,” ujarnya.
Di akhir sesi, panelis Sebastian Togelang menanyakan kemungkinan pengembangan menu lain, seperti nasi atau mi dengan berbagai pilihan saus. Manda menyatakan Fury Maru masih memprioritaskan dimsum sebagai produk utama karena penjualannya paling tinggi dibanding menu lain.
Masukan dari para panelis tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi Fury Maru untuk memperkuat strategi bisnis, mulai dari penentuan fokus pengembangan usaha, penyempurnaan branding, hingga persiapan ekspansi yang lebih matang.

