BERITA TERKINI
ESB Gelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Palembang, Dorong Pengusaha Kuliner Berbasis Data di Tengah Fenomena Lipstick Effect

ESB Gelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Palembang, Dorong Pengusaha Kuliner Berbasis Data di Tengah Fenomena Lipstick Effect

PALEMBANG — PT Esensi Solusi Buana (ESB) menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B di Palembang pada 9 Juli 2026. Kegiatan ini diikuti lebih dari 400 pendaftar pengusaha kuliner lokal, setelah sebelumnya ESB menyambangi Bandung dan Bali dengan total lebih dari 1.500 pendaftar.

Palembang menjadi kota ketiga dalam rangkaian roadshow nasional bertajuk “Meramu Strategi Tepat, Bisnis Kuliner Semakin Kuat”. ESB memilih Palembang karena dinilai sebagai salah satu pusat ekonomi utama di Sumatera dengan akar industri kuliner lokal yang kuat. Melalui kegiatan ini, ESB menargetkan dukungan bagi pelaku usaha agar mampu melakukan scale up, mengamankan margin, dan memperkuat daya saing.

ESB menyebut industri F&B saat ini menghadapi situasi yang paradoks. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat 5,61 persen pada Triwulan I-2026. Namun di sisi lain, jumlah kelas menengah disebut menyusut dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Tekanan daya beli tersebut memunculkan fenomena lipstick effect, ketika konsumen menahan belanja besar dan mengalihkannya ke “kesenangan kecil” yang lebih terjangkau, seperti kopi dan kuliner.

Fenomena itu, menurut ESB, tercermin pada proyeksi konsumsi kopi domestik Indonesia 2026/27 berdasarkan laporan USDA yang diperkirakan tetap tumbuh menjadi 4,83 juta kantong. Meski kenaikan harga biji kopi sempat menekan margin pelaku usaha dan menggeser preferensi konsumen ke varian kelas menengah-bawah, permintaan pasar secara keseluruhan dinilai masih kuat.

Di Palembang, potensi pasar F&B disebut terus berkembang seiring transformasi kota sebagai hub bisnis. Ekosistem kuliner dinilai kuat, mulai dari makanan khas lokal hingga pertumbuhan kedai kopi dan konsep F&B modern. Namun, meningkatnya jumlah pemain membuat pelaku usaha dituntut lebih disiplin dalam mengendalikan biaya, menjaga konsistensi operasional, serta memahami perubahan perilaku konsumen.

Co-Founder & CEO ESB Gunawan menilai era lipstick effect membuka peluang pertumbuhan bagi pelaku usaha yang ditopang sistem operasional yang tepat. Ia menyebut masyarakat Palembang tetap aktif berkuliner di luar, tetapi semakin selektif dalam menilai kesesuaian harga dan kualitas. Pada saat yang sama, fluktuasi harga bahan baku disebut dapat menggerus margin secara tidak kasat mata, sehingga pengelolaan manual dinilai memiliki keterbatasan dalam merespons perubahan pasar yang cepat.

Menurut Gunawan, digitalisasi operasional berbasis data real-time bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan fondasi untuk menjaga ketahanan dan keberlanjutan bisnis di tengah kompetisi. Untuk itu, ESB memperkenalkan tiga infrastruktur digital terintegrasi dari hulu ke hilir, yakni ESB POS untuk manajemen kasir dan pencatatan transaksi, ESB Order untuk sistem pemesanan mandiri scan-order-pay yang diklaim dapat memangkas waktu antrean hingga 40%, serta ESB Core (ERP) untuk visibilitas stok dan inventaris real-time sekaligus mendeteksi erosi margin.

Tantangan operasional di lapangan disampaikan Mirza Oktaviansyah, Owner Kopi Loer, yang menjadi pembicara dalam acara tersebut. Ia menyebut kebocoran operasional dan kontrol stok yang tidak akurat kerap muncul ketika pengelolaan masih dilakukan secara manual. Menurutnya, integrasi teknologi seperti ESB POS dan ESB Core (ERP) membuat setiap produk yang terjual otomatis memotong stok secara presisi, sehingga angka waste terlihat jelas, kebocoran dapat ditekan, dan performa berbagai cabang bisa dipantau melalui ponsel.

Dari sisi edukasi bisnis, F&B Educator & Business Management Consultant Agung Haryadi menekankan pentingnya keputusan berbasis data. Ia menyebut bisnis kuliner yang bertahan bukan yang paling ramai, melainkan yang paling cepat membaca perubahan dan meresponsnya. Menurutnya, tantangan utama adalah membangun sistem operasional yang mampu menopang pertumbuhan berkelanjutan, terutama saat bisnis berkembang ke skala berikutnya. Agung menilai tanpa visibilitas data operasional real-time, pelaku usaha akan terlambat merespons dinamika pasar yang kompetitif.

Regional Sales Lead ESB untuk wilayah Sumatera, Edwin Djaja, menyatakan Palembang dinilai siap bertransformasi. Ia menilai pelaku kuliner setempat memiliki modal berupa produk yang dikenal, pelanggan loyal, dan kultur berkuliner yang tinggi. Edwin menegaskan ESB membawa ekosistem yang memungkinkan pengusaha lokal bersaing setara dengan brand besar melalui akses pada data dan sistem operasional.

Kopdar Racik Bisnis F&B disebut sebagai inisiatif edukasi berkelanjutan ESB yang dirancang sebagai forum diskusi, sesi mentoring, dan bedah studi kasus bagi owner, founder, dan pengambil keputusan. Palembang menjadi pemberhentian ketiga dari rangkaian roadshow 10 kota sepanjang 2026, yang disebut akan mencakup kota-kota besar lain dari Medan hingga Makassar.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal dan didukung mitra strategis, termasuk BCA sebagai Official Payment Partner. ESB menyebut integrasi EDC BCA dan QRIS dengan ESB POS ditujukan agar transaksi berjalan mulus, aman, dan tercatat akurat untuk kebutuhan rekonsiliasi keuangan.

Menutup pernyataannya, Gunawan menekankan keberlanjutan industri F&B di Palembang tidak hanya bergantung pada produktivitas dapur, tetapi juga pada kemampuan mengelola dan memanfaatkan data operasional. Ia menyebut kegiatan ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha untuk menyelaraskan sistem internal agar siap melakukan scale up, menjaga stabilitas margin, dan meningkatkan daya saing.