Tabung gas Elpiji kini lekat dengan aktivitas memasak di banyak rumah tangga Indonesia. Namun, posisinya sebagai bahan bakar utama di dapur bukan terjadi seketika, melainkan melalui perjalanan panjang yang dipengaruhi inovasi teknologi dan kebijakan ekonomi nasional.
Dalam catatan sejarah global, teknologi pencairan gas tidak berawal dari Indonesia. Liquefied Petroleum Gas (LPG) pertama kali diidentifikasi oleh ilmuwan Amerika Serikat, Dr. Walter Snelling, pada 1910. Penemuan itu berangkat dari pengamatannya terhadap penguapan bensin yang dapat diubah menjadi bahan bakar cair yang lebih praktis jika disimpan di bawah tekanan.
Dua tahun kemudian, pada 1912, penggunaan LPG mulai diperkenalkan secara komersial untuk kebutuhan memasak dan penerangan. Di Indonesia, istilah “Elpiji” yang akrab di telinga masyarakat berasal dari pelafalan fonetik merek dagang LPG milik Pertamina, yang kemudian dibakukan sebagai identitas bahan bakar gas nasional.
Di tingkat nasional, Pertamina mulai memproduksi LPG sejak 1968. Pada fase awal, Elpiji masih dikategorikan sebagai barang mewah. Penggunaannya terbatas pada kalangan ekonomi atas, hotel berbintang, dan industri besar.
Sementara itu, hingga pertengahan 2000-an, mayoritas masyarakat Indonesia masih mengandalkan minyak tanah sebagai bahan bakar utama. Ketergantungan tersebut kemudian menjadi beban berat bagi anggaran negara, seiring subsidi minyak tanah yang terus meningkat.
Perubahan signifikan terjadi pada 2007 ketika pemerintah meluncurkan Program Konversi Minyak Tanah ke LPG. Program yang dipelopori Wakil Presiden saat itu, Jusuf Kalla, diarahkan untuk mendorong penggunaan energi yang lebih bersih dan efisien, sekaligus menekan beban subsidi APBN.
Dalam pelaksanaannya, pemerintah mendistribusikan jutaan paket kompor gas dan tabung LPG 3 kilogram secara cuma-cuma kepada masyarakat. Tabung berukuran 3 kilogram itu kemudian dikenal luas sebagai “tabung melon”. Meski sempat diwarnai kekhawatiran terkait aspek keamanan, program ini dicatat sebagai salah satu konversi energi tercepat dan paling sukses di dunia karena mampu mengubah pola konsumsi energi masyarakat dalam waktu singkat.
Memasuki 2026, perjalanan Elpiji masih berlanjut. Tabung melon tetap menjadi andalan, tetapi arah kebijakan mulai bergeser ke pembangunan jaringan gas pipa (jargas) dan penggunaan kompor induksi. Sejarah mencatat, transformasi dari minyak tanah ke Elpiji bukan semata urusan dapur, melainkan bagian dari modernisasi energi nasional Indonesia.

