Bisnis bumbu dapur merek Garlickys berhasil menembus pasar ekspor setelah berawal dari kebiasaan pemiliknya, Nico Njoto Wijaya, membuat garlic butter untuk konsumsi pribadi. Usaha yang dimulai di Surabaya pada 2019 itu kini berkembang menjadi produk rempah dengan puluhan varian.
Nico menceritakan, ide berjualan muncul dari respons teman-temannya yang menyukai garlic butter buatannya saat berkunjung ke rumah. Mereka menyarankan agar produk tersebut dijual sehingga bisa dibeli tanpa harus menunggu kesempatan bertamu.
Namun, langkah awal bisnis tidak langsung mulus. Nico mengakui penjualan sempat seret karena kemasan produk dinilai kurang informatif dan tidak menarik. “Awalnya enggak laku. Terus kami koreksi, ternyata kemasan kami jelek banget. Cuma ada merek, enggak ada informasi apa-apa,” ujarnya di Surabaya, Senin.
Setelah memperbaiki kemasan dengan label yang lebih rapi serta menambahkan segel produk, penjualan mulai meningkat. Pada masa awal itu, kapasitas produksi Garlickys masih terbatas, sekitar 30 botol setiap kali produksi.
Seiring berkembangnya usaha, Garlickys menghadapi kendala pasokan bahan baku rempah berkualitas, terutama parsley segar yang mudah layu. Dari situ, Nico berinisiatif menjual rempah-rempah kering agar bahan baku lebih awet dan stok lebih terjaga.
Produk Garlickys pun bertambah. Jika awalnya menawarkan 17 varian rempah dan tiga varian garlic butter, kini Garlickys memiliki 41 varian rempah, tiga varian garlic butter, serta produk bawang merah goreng dan bawang putih goreng.
Menurut Nico, pasar Garlickys tidak hanya berasal dari ibu rumah tangga, tetapi juga konsumen pria, termasuk mereka yang menjalani pola makan diet. Ia menilai produk bumbu tabur praktis digunakan untuk menu rebus-rebus.
Garlickys memasarkan produk melalui kanal daring dan luring, menyasar restoran, industri kuliner, serta konsumen ritel di berbagai marketplace. Di platform Shopee, Garlickys mencatat rata-rata 400 hingga 500 pesanan per hari, dan pada periode kampanye tanggal kembar seperti 12.12 jumlah pesanan bisa meningkat tiga hingga empat kali lipat.
Di tengah persaingan harga di marketplace, Nico menyatakan Garlickys memilih menjaga kualitas produk dan merek. Ia menilai penurunan kualitas demi harga murah berisiko membuat pelanggan setia berpaling.
Atas pertumbuhan tersebut, Garlickys meraih penghargaan Shopee Super Awards 2025 untuk kategori Super Growing Export dengan pertumbuhan bisnis lebih dari 213 persen. Garlickys juga tergabung dalam Program Ekspor Shopee dengan pertumbuhan penjualan ekspor mencapai 200 persen sepanjang 2025, dengan tujuan ekspor meliputi Hong Kong, Singapura, Swiss, dan Malaysia.
Usaha yang semula dijalankan sendiri kini berkembang dengan melibatkan sekitar 15 karyawan. Nico menambahkan, bisnis yang dimulai sebelum pandemi itu sempat menghadapi situasi sulit, namun penjualan daring justru semakin kuat.

