BERITA TERKINI
Dapur SPPG di Pekalongan Perketat Kontrol dari Penerimaan Bahan hingga Distribusi MBG

Dapur SPPG di Pekalongan Perketat Kontrol dari Penerimaan Bahan hingga Distribusi MBG

Kota Pekalongan — Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Pekalongan menerapkan kontrol ketat dalam seluruh rangkaian layanan Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari penerimaan bahan pangan, proses pengolahan, penyusunan menu, hingga distribusi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keamanan, kebersihan, ketepatan waktu, serta pemenuhan gizi bagi ribuan penerima manfaat, sesuai pedoman dan arahan pusat.

Saat dikunjungi Tim Satgas Pengawasan MBG pada Selasa (30/9/2025), Kepala Dapur SPPG Sapuro Kebulen, Ganesh Permana Putri, menjelaskan bahan pangan sengaja didatangkan lebih awal untuk menjaga kesegaran dan mutu. Menurutnya, bahan biasanya tiba sejak sore hari sebelum pemasakan. Proses memasak dimulai pukul 01.00 dini hari, sedangkan pengemasan dilakukan paling awal pukul 06.30 untuk kebutuhan anak TK dan paling akhir sekitar pukul 09.00 hingga 09.30.

Dapur yang dipimpinnya melayani 3.082 penerima manfaat, mencakup siswa TK, SD, SMP, SMA, SMK, serta kelompok B3 (ibu hamil, ibu menyusui, dan balita). Terkait menu, Ganesh menyebut penyusunan makanan mengikuti arahan petugas gizi di dapur dengan variasi menu. Ia juga mengungkap adanya masukan dari guru agar menu menyesuaikan selera siswa, seperti spaghetti atau burger. Namun, sesuai arahan terbaru, menu olahan tidak boleh terlalu sering sehingga porsi menu tersebut dikurangi, meski tetap diselingi agar anak-anak tetap bersemangat makan. Ia menegaskan proses memasak dilakukan dengan memperhatikan aspek kebersihan dan keamanan.

Ganesh juga menyatakan hingga kini tidak ada kasus kesehatan yang muncul akibat konsumsi makanan dari dapur yang dipimpinnya. “Alhamdulillah di tempat kami tidak ada kasus,” ujarnya.

Pernyataan serupa disampaikan Kepala Dapur SPPG Bendan Kergon, M. Ferdian. Ia menekankan pentingnya pengecekan bahan sejak kedatangan. Bahan baku, kata dia, diambil pada sore hari untuk diolah keesokan harinya. Setibanya di dapur, bahan langsung diperiksa dan jika tidak sesuai, akan dikembalikan terlebih dahulu.

Ferdian menjelaskan pengaturan waktu memasak disesuaikan dengan permintaan sekolah untuk mencegah makanan menjadi basi. Jika sekolah meminta pengantaran pukul 07.00, maka dapur akan memasak lebih awal. Sementara jika permintaan pukul 08.00, proses memasak dilakukan pada termin berikutnya, dan seterusnya. Ia menambahkan, jarak antara proses memasak dan distribusi dijaga maksimal dua jam.

Dapur Bendan Kergon melayani 3.994 penerima manfaat, meliputi pelajar SD, SMP, SMK, kelompok B3, serta Kelompok Bermain. Untuk penyimpanan bahan baku, Ferdian menyebut bahan kering dan basah ditempatkan di ruangan terpisah guna mencegah kontaminasi sesuai arahan BGN. Selain itu, sanitasi juga mengikuti arahan pusat, termasuk penanganan limbah yang langsung dibuang saat itu juga agar tidak menimbulkan bau maupun pencemaran.

Dalam penyusunan menu, Ferdian menyampaikan pihaknya menggunakan rujukan dari ahli gizi dan menghindari menu yang dinilai rawan. Ia juga menyebut adanya diskusi dengan dapur lain untuk saling bertukar saran.

Serangkaian langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat tetap bergizi, higienis, dan aman dikonsumsi.