Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Harapan Mulia di Kemayoran, Jakarta Pusat, memperketat evaluasi rutin terhadap relawan dan proses operasional. Langkah ini dilakukan untuk mencegah pelanggaran etika yang dapat berdampak pada keberlangsungan layanan dapur.
Kepala SPPG Harapan Mulia, Fakhri Irfan Pribadi, mengatakan evaluasi sumber daya manusia menjadi fokus utama pascalebaran, terutama terkait etika kerja dan kebersihan personal relawan. Evaluasi tersebut dilakukan secara berkala, sekitar satu hingga dua kali dalam seminggu.
“Kita setiap seminggu sekali atau dua minggu sekali kita melakukan evaluasi terhadap relawan, baik itu edukasi gizi, kemudian kemampuan pelatihan relawan dan lain sebagainya,” kata Fakhri di SPPG Harapan Mulia, Selasa (31/3/2026).
Selain kemampuan dan pelatihan, aspek personal hygiene juga menjadi perhatian untuk menjaga standar operasional dapur agar tetap sesuai ketentuan pemerintah pusat. “Balik lagi tadi ke personal hygiene masing-masing dari relawan,” ujarnya.
Menurut Fakhri, penguatan pengawasan ini merupakan langkah antisipasi agar tidak terjadi pelanggaran etika yang dapat mengganggu operasional dapur, termasuk potensi penutupan layanan.
Di sisi lain, SPPG Harapan Mulia juga menerapkan pengawasan ketat keamanan pangan berbasis Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP), mulai dari penerimaan bahan baku hingga distribusi. “Kemudian kita di sini juga dari penerimaan bahan baku sampai distribusi kita juga menerapkan namanya HACCP yaitu Hazard Analysis Critical Control Point, di mana kita harus tahu terlebih dahulu titik kritis kontrolnya tersebut,” kata Fakhri.
Pengawasan dimulai sejak bahan baku diterima dari pemasok. Jika bahan dinilai tidak sesuai dari segi bau, aroma, tekstur, atau kualitas, dapur akan menolaknya dan mengembalikan kepada pemasok. “Jadi kalau semisal dari penerimaan bahan baku nih dari awal ada bahan baku yang menurut kita dari bau, aroma, ataupun teksturnya tidak sesuai, kita bisa berhak mengembalikan ke supplier,” ujarnya.
Fakhri menambahkan, sebelum makanan didistribusikan, tim juga melakukan uji kualitas melalui metode organoleptik yang melibatkan tim internal dan ahli gizi. Dalam uji ini, makanan diperiksa dari aspek bau, tekstur, dan aroma. Jika ditemukan indikasi tidak layak, makanan dapat ditarik agar tidak dibagikan. “Untuk uji sampelnya itu biasanya sebelum dibagikan ada namanya organoleptik, jadi kalau semisal di organoleptik itu kan ada kita bau, tekstur, dan juga aroma yang tidak sedap, nah itu nanti kita bisa tarik kembali agar tidak didistribusikan,” katanya.
Evaluasi rutin di SPPG Harapan Mulia juga mencakup kualitas makanan, keamanan pangan, edukasi gizi, hingga pengelolaan limbah dan sanitasi lingkungan. Fakhri memastikan prosedur pengelolaan limbah di dapur tersebut telah mengikuti standar operasional yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Dalam operasionalnya, SPPG Harapan Mulia turut melibatkan tenaga kerja dari warga sekitar sesuai ketentuan, dengan porsi 70 persen, serta memastikan mereka mendapatkan pembinaan secara berkala.

