Dapur Ismar mengembangkan usaha bumbu instan khas Makassar, Sulawesi Selatan, yang kini kian dikenal masyarakat dan mulai menembus pasar ritel modern. Pemilik Dapur Ismar, Irma, mengatakan usaha tersebut berangkat dari tradisi keluarga yang telah berkecimpung di dunia kuliner sejak 1982.
Irma menjelaskan, pengalaman orang tuanya mengelola warung makan menjadi dasar bagi dirinya untuk merintis produk bumbu instan agar lebih praktis digunakan. Dari proses itu, ia kemudian memfokuskan diri mengembangkan bumbu khas daerah dengan tetap mempertahankan karakter rasa yang sudah dikenal.
Saat ini, Dapur Ismar memproduksi sedikitnya 18 varian bumbu, di antaranya bumbu coto Makassar, konro, rawon, opor, serta bumbu dasar merah dan putih. Produksi dilakukan setiap hari dengan menjaga kualitas bahan baku dari pemasok pilihan, sehingga rasa dapat tetap konsisten meski skala produksi meningkat.
Menurut Irma, strategi utama yang dijalankan adalah menjaga standar resep keluarga agar tidak berubah. Ia menekankan pentingnya mempertahankan cita rasa khas yang sama agar konsumen tetap mendapatkan pengalaman rasa yang konsisten.
Dari sisi pemasaran, Dapur Ismar tidak hanya mengandalkan penjualan langsung di rumah makan dan toko oleh-oleh. Produk juga dipasarkan melalui platform digital seperti Instagram, TikTok, dan Shopee untuk memperluas jangkauan, termasuk peluang pasar nasional dan internasional.
Irma juga menyebut dukungan pemerintah, Bank Indonesia, serta berbagai program pembinaan UMKM turut membantu pengembangan usaha hingga dapat masuk ke pasar ritel modern.
Melalui siaran Teras UMKM, PRO4 RRI Makassar berharap kisah Dapur Ismar dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lokal untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya daerah. Perpaduan resep warisan keluarga, pemasaran digital, dan dukungan pembinaan dinilai dapat memperkuat pengenalan bumbu khas Sulawesi Selatan sebagai identitas kuliner daerah yang mampu bersaing di tingkat nasional.

