BERITA TERKINI
Cheesecake Oreo dalam Cup Dinilai Berpeluang Jadi Usaha Kuliner Skala Kecil

Cheesecake Oreo dalam Cup Dinilai Berpeluang Jadi Usaha Kuliner Skala Kecil

Cheesecake Oreo dalam kemasan cup kian sering muncul di media sosial, ditawarkan dari lapak rumahan hingga toko daring. Di balik tampilannya yang menarik dan harga yang relatif terjangkau, produk dessert ini dinilai memiliki potensi sebagai usaha kuliner skala kecil, terutama bagi pemula yang ingin memulai bisnis tanpa modal besar.

Penilaian tersebut muncul dari analisis kelayakan usaha yang disusun dalam tugas mata kuliah Kewirausahaan oleh Rendy Andika Kurniawan, Rizky Ramadhanu, dan Sahira. Kajian itu menilai peluang usaha cheesecake Oreo dari aspek pasar, teknis, sumber daya manusia, serta keuangan, dan memetakannya melalui analisis SWOT.

Dalam kajian tersebut, sektor kuliner disebut memiliki pasar yang relatif stabil karena makanan dan minuman merupakan kebutuhan yang terus berjalan. Perubahan perilaku konsumen—yang dipengaruhi media sosial dan layanan pesan antar—juga mendorong meningkatnya minat pada makanan penutup yang praktis, menarik secara visual, dan mudah dibagikan di platform digital.

Cheesecake Oreo dalam cup dianggap memenuhi kriteria tersebut. Ukuran satu porsi dinilai praktis, mudah dibawa, dan tampilan berlapisnya dinilai fotogenik. Dari sisi rasa, perpaduan krim keju dan biskuit Oreo disebut akrab bagi banyak konsumen.

Aspek teknis juga menjadi pertimbangan. Produk ini diklaim dapat dibuat tanpa proses pemanggangan, sehingga tidak memerlukan oven maupun mixer. Dengan peralatan dapur dasar seperti panci dan spatula, produksi dapat dilakukan dari rumah dalam jumlah kecil, menyesuaikan pesanan. Bahan baku utama—seperti susu, keju oles, dan biskuit—juga disebut mudah ditemukan di pasar maupun swalayan.

Untuk pasar, kajian tersebut memetakan target pembeli utama pada pelajar, mahasiswa, pekerja muda, serta keluarga yang menyukai dessert manis dengan harga terjangkau. Kelompok ini dinilai aktif di media sosial dan terbiasa memesan makanan secara daring. Sebagai contoh awal, kajian mengarahkan pemasaran di sekitar Kampus 1 Universitas Pamulang di Pamulang, Tangerang Selatan, dengan pertimbangan kedekatan calon pembeli seperti mahasiswa, dosen, dan pegawai.

Saluran penjualan yang disorot mencakup pemesanan langsung di lingkungan terdekat, lalu dikembangkan melalui media sosial dan aplikasi pesan antar. Dalam strategi pemasaran, kajian menekankan pentingnya foto produk yang rapi dan terang, testimoni pelanggan awal, serta penggunaan label atau stiker sederhana pada kemasan untuk membantu pengenalan produk.

Kajian itu juga memuat gambaran resep dan proses pembuatan untuk sekitar lima cup berukuran 150 ml. Bahan yang dicantumkan meliputi satu bungkus biskuit Oreo 133 gram, keju oles 160 gram, susu cair full cream 500 ml, susu kental manis dua sachet, serta dua sendok makan maizena yang dilarutkan. Prosesnya mencakup pemisahan biskuit dari krim, pemanasan susu, pencampuran krim Oreo, keju oles, dan susu kental manis, lalu pengentalan dengan maizena sebelum disusun berlapis dalam cup dan didinginkan.

Dari sisi keuangan, perhitungan dilakukan dengan asumsi satu kali produksi menghasilkan sekitar lima cup. Biaya bahan baku per produksi diperkirakan sekitar Rp 37.700. Setelah ditambah kemasan serta gas atau listrik, total biaya per produksi diperkirakan sekitar Rp 43.700, sehingga harga pokok produksi sekitar Rp 8.740 per cup.

Dengan asumsi harga jual Rp 13.000 per cup, laba diperkirakan sekitar Rp 4.260 per cup atau sekitar 49 persen dari harga pokok produksi. Kajian itu juga menyebut modal awal sekitar Rp 494.800, yang mencakup peralatan, bahan untuk empat kali produksi, serta biaya promosi seperti label dan foto produk. Biaya tetap sebesar Rp 320.000 disebut diperkirakan kembali setelah penjualan sekitar 76 cup.

Rincian modal awal yang dicantumkan terdiri dari peralatan sekitar Rp 270.000, modal kerja untuk empat kali produksi (sekitar 20 cup) sekitar Rp 174.800, serta promosi sekitar Rp 50.000. Jika seluruh 20 cup terjual, pendapatan disebut mencapai sekitar Rp 260.000 dengan laba sekitar Rp 85.200. Kajian itu juga menekankan bahwa perhitungan belum memasukkan upah pemilik dan dapat berubah mengikuti harga bahan di masing-masing daerah.

Meski dinilai menjanjikan, kajian tersebut menyoroti sejumlah tantangan. Persaingan dengan penjual dessert sejenis disebut tinggi, sehingga pelaku usaha perlu memiliki pembeda, baik dari rasa, kemasan, maupun pelayanan. Daya tahan produk juga terbatas karena berbahan dasar susu dan memerlukan penyimpanan dingin, sehingga produksi sesuai pesanan dinilai penting. Konsistensi rasa, kebersihan, dan pencatatan keuangan rutin juga disebut menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan usaha.

Dalam analisis SWOT, kekuatan usaha ini disebut berada pada modal awal yang relatif terjangkau, proses produksi yang sederhana, serta tampilan produk yang menarik untuk pemasaran digital. Di sisi lain, kelemahan meliputi daya tahan produk yang terbatas, kapasitas produksi yang masih kecil karena dikerjakan mandiri, serta merek yang belum dikenal dan pengalaman yang terbatas.

Peluang dipetakan pada minat konsumen muda terhadap dessert praktis dan menarik, keberadaan pasar potensial di lingkungan kampus, serta dukungan media sosial dan layanan pesan antar yang membuka jalur promosi dan penjualan. Sementara ancaman mencakup ketatnya persaingan, potensi kenaikan harga bahan baku, perubahan tren, serta risiko turunnya kepercayaan pelanggan bila kebersihan dan kualitas tidak terjaga.

Untuk pengembangan, kajian tersebut menyebut sejumlah opsi jika usaha berjalan stabil, seperti menambah varian rasa, memperluas penjualan melalui platform daring secara lebih konsisten, menawarkan paket hemat atau hampers untuk momen tertentu, serta meningkatkan skala produksi secara bertahap setelah permintaan terbukti.

Secara keseluruhan, analisis yang disusun menyimpulkan cheesecake Oreo dalam cup layak dipertimbangkan sebagai peluang usaha kuliner skala kecil. Dengan modal yang disebut relatif terjangkau, proses pembuatan yang sederhana, serta pasar yang sesuai dengan kebiasaan konsumen muda, usaha ini dinilai memiliki ruang tumbuh—dengan catatan pelaku usaha mengelola kualitas, kebersihan, produksi, dan pencatatan biaya secara disiplin.