Daging ayam masih menjadi pilihan banyak orang karena mudah diolah, rasanya familiar, dan dikenal tinggi protein. Namun, konsumsi ayam tetap perlu diperhatikan, terutama pada bagian tertentu seperti kulit dan jeroan yang disebut mengandung kolesterol lebih tinggi bila dimakan berlebihan.
Seiring meningkatnya perhatian terhadap pola makan lebih sehat, muncul cara memasak yang banyak dicoba pada 2025, yakni merebus ayam dengan tambahan satu bahan dapur sederhana: cuka masak. Metode ini disebut dapat membantu meluruhkan lemak saat proses perebusan.
Ayam juga mengandung sejumlah zat gizi yang membuatnya kerap dipilih sebagai sumber protein. Di antaranya protein untuk pembentukan dan perbaikan jaringan tubuh, vitamin B6 yang membantu proses metabolisme, serta asam pantotenat yang mendukung produksi energi.
Meski demikian, kolesterol jahat (LDL) disebut lebih banyak terdapat pada kulit dan jeroan, terutama pada ayam broiler. Dalam 100 gram kulit ayam broiler, tercatat sekitar 165 mg kolesterol. Jika dikonsumsi terlalu sering, kolesterol dapat menumpuk di pembuluh darah dan meningkatkan risiko masalah kesehatan seperti penyakit jantung atau tekanan darah tinggi.
Ahli gizi Mutiara Wangi menyebut penambahan cuka saat merebus ayam dapat membantu mengurangi kadar lemak dan kolesterol. “Cuka membantu membuat ayam lebih kesat seperti ayam kampung, sekaligus membantu mengeluarkan lemak jahat,” ujarnya. Dalam penjelasan yang sama, cuka disebut bekerja melalui sifat asam yang membantu memecah lemak saat perebusan, sekaligus membantu mengurangi aroma amis. Hasilnya, daging ayam dinilai lebih padat dan tidak berminyak.
Langkah merebus ayam dengan cuka dapat dilakukan dengan cara menyiapkan ayam potong—disarankan tanpa kulit—lalu memasukkannya ke panci dan menambahkan air hingga ayam terendam. Setelah itu, tambahkan 1–2 sendok makan cuka ke dalam air rebusan. Masak dengan api sedang; jika menggunakan ayam utuh, bagian yang tidak terendam dapat sesekali disiram. Proses perebusan berlangsung sekitar 30–45 menit hingga air menyusut dan minyak dari ayam terlihat mengapung di permukaan.
Untuk hasil lebih bersih, buih atau busa yang muncul saat merebus disarankan dibuang. Sebagai tambahan aroma, daun salam atau jahe dapat dimasukkan ke dalam rebusan.
Dalam perbandingan yang disebutkan, ayam kampung dinilai cenderung lebih rendah kolesterol karena lebih aktif bergerak dan memiliki lemak lebih sedikit. Sementara ayam broiler dikenal lebih empuk, tetapi kadar lemak dan kolesterolnya lebih tinggi, terutama pada kulit dan organ dalam. Meski begitu, ayam broiler tetap dapat dikonsumsi selama diolah dengan cara yang lebih sehat, salah satunya melalui metode rebus dengan cuka.
Selain merebus, metode memasak lain yang disebut lebih sehat adalah mengukus dan memanggang. Mengukus dinilai dapat menjaga gizi tanpa menambah lemak, sedangkan memanggang memungkinkan lemak menetes keluar, terutama bila tanpa tambahan minyak. Sebaliknya, teknik menggoreng—terlebih menggunakan minyak bekas—disarankan dihindari karena dapat meningkatkan asupan lemak.
Dengan pengolahan yang tepat, konsumsi ayam disebut dapat membantu menekan risiko penyakit jantung, menjaga berat badan tetap stabil, dan tetap memungkinkan orang menikmati olahan ayam tanpa kekhawatiran berlebihan terhadap lemak dan kolesterol.

