Jember—Bupati Jember Fawait meninjau pembangunan kawasan street food di pusat Kota Jember, Rabu (20/5/2026). Meski progres pembangunan disebut belum separuh jalan, ia menunjukkan antusiasme saat memantau langsung lokasi usai menghadiri pesta rakyat Karnaval SCTV pada akhir pekan lalu.
Dalam peninjauan tersebut, Fawait didampingi Penjabat Sekretaris Daerah Achmad Imam Fauzi serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD). Mereka berkeliling memantau koridor Jalan Kartini hingga Jalan Gatot Subroto yang diproyeksikan menjadi kawasan kuliner malam sekaligus pusat penataan pedagang kaki lima (PKL) di Jember.
Fawait mengatakan pembangunan kawasan street food masih berada pada tahap awal dan belum menggambarkan konsep akhir yang dirancang pemerintah daerah. Ia memperkirakan progres baru mencapai 25 hingga 30 persen.
“Kalau dipersentase mungkin baru 25 sampai 30 persen. Jadi kalau dikatakan selesai, belum, masih jauh. Lampu-lampunya belum semua, gerobaknya dengan nuansa Nusantara dan dunia juga belum,” kata Fawait.
Menurutnya, kawasan ini tidak hanya disiapkan sebagai pusat kuliner malam, tetapi juga bagian dari upaya menghidupkan kembali area pusat kota yang dinilai belum tertata optimal. Pemerintah daerah juga menyiapkan konsep visual bertema untuk tiap koridor jalan. Salah satunya, nuansa Eropa klasik di sekitar kawasan gereja di Jalan Kartini.
“Dari pertigaan sampai ke sana nuansanya Eropa klasik menyesuaikan gereja. Jadi nanti gerobaknya juga bernuansa Eropa klasik,” ujarnya.
Fawait memastikan area depan gereja tidak akan ditempati PKL. Lokasi tersebut direncanakan menjadi ruang terbuka dengan ornamen dekoratif dan area duduk bagi pengunjung.
“Tempat duduknya nanti di trotoar, bukan di jalannya. Jalannya tetap untuk kendaraan masuk,” kata dia.
Selain pembangunan fisik, Fawait juga membuka ruang partisipasi publik untuk penentuan nama kawasan street food. Ia meminta masyarakat mengusulkan nama yang dinilai sesuai konsep kawasan.
“Kalau ada yang mau usul nama, apa pun boleh. Mau yang lucu-lucu juga boleh,” ujarnya.
Fawait menegaskan konsep street food ini tidak semata diarahkan sebagai sentra kuliner, tetapi juga strategi penataan PKL dan penguatan ekonomi rakyat berbasis UMKM. Selama ini, pedagang kaki lima tersebar di sejumlah titik pusat kota, termasuk sekitar alun-alun. Pemerintah daerah berharap kawasan street food dapat menjadi ruang baru yang lebih tertata untuk aktivitas ekonomi informal tersebut.
“Harapan kami, alun-alun menjadi lebih tertata dan PKL bisa terwadahi di kawasan street food,” kata Fawait.

