Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan percepatan penurunan stunting membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Menurut dia, penanganan stunting tidak cukup mengandalkan Dinas Kesehatan, tetapi juga harus melibatkan keluarga, sektor pendidikan, pemenuhan kebutuhan pangan, hingga perbaikan sanitasi.
“Penanganannya pun tidak dapat dibebankan hanya kepada Dinas Kesehatan. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor,” kata Dadang Supriatna, Selasa, 13 Oktober 2026.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Kabupaten Bandung pada 2024 tercatat sebesar 24,1 persen. Dadang mengingatkan stunting tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan, melainkan juga berhubungan dengan perkembangan anak, kemampuan belajar, dan kualitas sumber daya manusia pada masa depan.
Dalam upaya mempercepat penurunan stunting, ia berharap Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) berperan lebih aktif melalui edukasi gizi, pendampingan keluarga berisiko stunting, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta pemanfaatan data untuk menentukan intervensi yang tepat sasaran.
Dadang juga menyoroti pentingnya keamanan pangan. Ia menekankan bahwa makanan yang mengenyangkan belum tentu memenuhi kebutuhan gizi, sementara makanan yang terlihat menarik juga belum tentu aman untuk dikonsumsi.
Karena itu, ia mendorong agar edukasi tentang pangan sehat diperluas hingga ke lingkungan keluarga, sekolah, pesantren, rumah sakit, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Ia meminta kerja sama antara pemerintah daerah, PERSAGI, puskesmas, posyandu, dunia pendidikan, dan pelaku usaha diterjemahkan menjadi program yang konkret dan terukur. Selain itu, Dadang mendorong optimalisasi pangan lokal sebagai sumber makanan bergizi yang terjangkau dan mudah diakses masyarakat.