BERITA TERKINI
Dinkes Surabaya Tekankan Gizi Seimbang Balita Tak Harus Mahal

Dinkes Surabaya Tekankan Gizi Seimbang Balita Tak Harus Mahal

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya menegaskan pemenuhan gizi seimbang bagi anak usia bawah lima tahun (balita) tidak selalu harus bergantung pada bahan makanan mahal. Keberagaman makanan, kecukupan zat gizi, kebersihan, serta kesesuaian menu dengan usia anak dinilai menjadi kunci untuk mendukung tumbuh kembang balita secara optimal.

Dalam program dialog Surabaya Siang Ini pada Kamis, 15 Oktober 2026, Staf Tim Kerja Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Surabaya, Syarifudin Dimas Zarkasyi, S.Tr.Gz., mengatakan orang tua perlu memahami pemenuhan gizi anak sejak dini.

Menurutnya, gizi seimbang bukan sekadar memberi makanan dalam jumlah banyak, melainkan memastikan makanan yang dikonsumsi anak beragam, cukup, aman, dan sesuai usia. Ia juga menekankan bahwa bahan pangan tidak harus mahal selama kebutuhan gizi anak diperhatikan.

Syarifudin Dimas menjelaskan masa balita merupakan periode pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak yang berlangsung pesat. Karena itu, asupan gizi yang memadai diperlukan untuk menunjang perkembangan tulang dan otot, kemampuan belajar, aktivitas fisik, serta daya tahan tubuh anak.

Ia menyebut komposisi makanan sehari-hari dapat mencakup makanan pokok sebagai sumber energi, lauk sebagai sumber protein, sayuran, dan buah-buahan. Pilihan menu dapat menyesuaikan ketersediaan bahan di rumah, seperti nasi, kentang, ubi, telur, ikan, ayam, tahu, tempe, bayam, wortel, pisang, dan pepaya. Orang tua didorong menyajikan bahan pangan secara kreatif dan variatif.

Variasi bahan makanan, lanjutnya, penting untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi anak. Protein dapat dipenuhi dari telur, ikan, ayam, maupun sumber nabati seperti tahu dan tempe. Orang tua juga diminta memperhatikan kebiasaan makan anak.

Selain jenis makanan, cara pemberian makan disebut turut memengaruhi pembentukan kebiasaan makan. Jadwal makan yang teratur, porsi yang sesuai, serta tekstur makanan berdasarkan usia dan kemampuan anak perlu diperhatikan.

Saat anak menolak makanan, orang tua dianjurkan tetap tenang dan tidak menggunakan paksaan atau ancaman. Makanan baru dapat dikenalkan kembali secara bertahap agar anak memiliki kesempatan mengenali rasa dan teksturnya.

Syarifudin Dimas juga mengingatkan pentingnya membangun suasana makan yang nyaman, mengenali tanda lapar dan kenyang anak, serta memperkenalkan variasi makanan dengan sabar agar anak terbiasa dengan pola makan sehat sejak dini.

Kebiasaan lain yang perlu dibangun meliputi konsumsi air putih, mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan bahan pangan, dan memastikan makanan dimasak hingga matang. Anak juga perlu didorong untuk aktif bergerak dan mendapatkan waktu istirahat yang cukup.

Ia menambahkan pemenuhan gizi seimbang berkaitan pula dengan pengendalian konsumsi gula dan garam. Orang tua diminta membatasi minuman manis, permen, biskuit manis, serta makanan yang terlalu asin. Untuk anak di bawah usia dua tahun, gula tambahan disebut perlu dihindari.

Secara keseluruhan, pemenuhan gizi balita membutuhkan konsistensi keluarga, mulai dari memilih bahan makanan, membangun kebiasaan makan sehat, menjaga kebersihan, hingga memantau pertumbuhan anak. Melalui edukasi gizi seimbang, orang tua diharapkan memahami bahwa mendukung tumbuh kembang balita dapat dimulai dari rumah melalui langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten, dengan prinsip makanan tidak harus mahal, tetapi harus beragam, cukup, aman, dan sesuai usia anak.