BERITA TERKINI
Buku “Revolusi” David Van Reybrouck Soroti Kemerdekaan Indonesia dari Sudut Pandang Orang Biasa dan Konteks Global

Buku “Revolusi” David Van Reybrouck Soroti Kemerdekaan Indonesia dari Sudut Pandang Orang Biasa dan Konteks Global

Sejarah kemerdekaan Indonesia kerap hadir sebagai narasi besar tentang pahlawan, proklamasi, dan kemenangan nasional. Kisah itu tersusun rapi dalam buku pelajaran, pidato resmi, hingga peringatan seremonial. Namun, buku Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern karya David Van Reybrouck menawarkan cara pandang berbeda: sejarah dituturkan lebih manusiawi tanpa menghilangkan ketegangan politik maupun makna perjuangan.

Van Reybrouck, penulis asal Belgia yang menulis dalam bahasa Belanda (Flemish), menempatkan dirinya bukan sebagai “hakim” atas sejarah Indonesia, melainkan sebagai pendengar. Posisi sebagai orang luar kerap memunculkan pertanyaan tentang kemampuan memahami sejarah Indonesia secara adil, tetapi dalam buku ini pendekatan tersebut justru menjadi salah satu kekuatannya.

Selama lebih dari lima setengah tahun, Van Reybrouck menelusuri jejak revolusi Indonesia melalui wawancara lintas kelas sosial dan lintas bangsa. Ia tidak hanya menemui kalangan elit politik dan militer, tetapi juga orang-orang biasa: tentara rendahan, warga sipil, kelompok pro-kemerdekaan, kelompok pro-Belanda, hingga orang Indo-Belanda yang berada di antara dua identitas. Dengan cara itu, sejarah tidak semata menjadi milik mereka yang tampil di podium, melainkan juga mereka yang hidup di ruang-ruang keseharian.

Buku ini juga menempatkan revolusi Indonesia dalam konteks global pasca-Perang Dunia II. Van Reybrouck menggambarkan Proklamasi 1945 terjadi dalam situasi kekosongan kekuasaan ketika Jepang telah kalah, Belanda mengalami tekanan ekonomi, dan tatanan dunia sedang dibentuk ulang oleh kekuatan besar. Ia membagi periode revolusi ke dalam fase yang tidak lazim, seperti “tahun Inggris”, “tahun Belanda”, “tahun Amerika”, hingga “tahun PBB”. Pembabakan ini menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya dipahami sebagai pertarungan dua pihak, melainkan bagian dari dinamika geopolitik internasional.

Aspek lain yang membuat buku tersebut terasa dekat adalah gaya bertutur yang tidak terjebak pada bahasa akademik yang kering. Van Reybrouck menggunakan metafora untuk membantu pembaca membayangkan struktur ketidakadilan kolonial. Masyarakat kolonial, misalnya, dianalogikan seperti kapal dengan tiga dek: dek atas untuk orang Eropa, dek tengah untuk “Timur Asing”, dan dek bawah untuk pribumi. Sementara diplomasi kemerdekaan digambarkan seperti permen bola yang dibagi tidak selalu adil, bergantung pada siapa yang memegang kendali.

Sejumlah tokoh dari Belanda seperti Haji Pocke Prinsen, Piet van Staveren, dan Joop Hueting, serta tokoh Indonesia seperti Sutan Syahrir, muncul bukan sekadar sebagai catatan kaki, melainkan sebagai manusia dengan pilihan-pilihan sulit. Dari kisah mereka, pembaca diajak melihat bahwa sejarah tidak selalu hitam-putih: ada loyalitas yang terbelah, keberanian yang muncul dari posisi tak terduga, serta sisi kemanusiaan yang melampaui identitas nasional.

Dalam konteks pendidikan, buku Revolusi menjadi pengingat bahwa pengajaran sejarah kerap terlalu sempit karena menekankan narasi tunggal tentang pahlawan besar dan peristiwa monumental. Sementara itu, pengalaman orang biasa, dilema moral, dan kompleksitas diplomasi internasional sering kurang tersentuh. Pendekatan yang lebih luas dinilai dapat membantu membangun pemahaman yang lebih utuh—bahwa sejarah bukan hanya soal kejayaan, melainkan juga perjalanan manusia yang dipenuhi pilihan sulit, keberanian, dan kompromi.

Buku ini juga menunjukkan bahwa memperkaya perspektif tidak harus dimaknai sebagai upaya meruntuhkan keyakinan tentang kemerdekaan Indonesia. Bagi pembaca yang terbiasa dengan narasi tunggal versi negara, beberapa bagian mungkin terasa mengejutkan. Namun, kejutan tersebut dapat menjadi dorongan untuk meninjau ulang pemahaman, bukan untuk menyangkal sejarah, melainkan untuk memahaminya secara lebih dewasa.

Pada akhirnya, buku Revolusi mengajukan pelajaran tentang cara membaca dan mengajarkan sejarah: mencintai bangsa tidak harus berarti menutup mata terhadap kompleksitas masa lalu. Mendengar suara orang kecil tidak melemahkan heroisme, justru dapat menguatkannya. Empati—termasuk yang datang dari penulis asing—dapat menjadi jembatan untuk memahami sejarah Indonesia dengan lebih jujur dan mendalam.