PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menilai keberhasilan agenda keuangan berkelanjutan di negara berkembang sangat ditentukan oleh kemampuan pembiayaan menjangkau sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyebut UMKM merupakan tulang punggung perekonomian negara berkembang, baik dari sisi jumlah pelaku usaha maupun dampaknya terhadap masyarakat.
Hery mengatakan lebih dari 90 persen unit usaha berada di segmen UMKM, dengan kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja, penguatan rantai pasok lokal, serta ketahanan ekonomi masyarakat. Ia menegaskan, sejak awal berdiri hingga kini berusia 130 tahun, BRI dirancang untuk melayani segmen mikro dan UMKM. Karena itu, menurutnya, keuangan berkelanjutan bukan agenda baru bagi BRI, melainkan bagian dari proses bisnis yang dijalankan sehari-hari.
Meski demikian, Hery menilai peran strategis UMKM masih kerap terpinggirkan dalam diskursus global mengenai keberlanjutan. Padahal, tanpa keterlibatan UMKM, agenda transisi hijau dan pertumbuhan inklusif dinilai sulit diwujudkan. Ia menambahkan, bagi negara berkembang, isu keberlanjutan tidak lagi berhenti pada komitmen, melainkan pada kemampuan eksekusi di lapangan.
Menurut Hery, tantangan utama adalah memastikan pembiayaan berkelanjutan dapat disalurkan secara aman, efisien, dan dalam skala besar kepada sektor yang paling membutuhkan. Dalam konteks itu, BRI memosisikan diri sebagai anchor bank dengan memadukan prinsip inklusi keuangan dan keberlanjutan.
BRI juga menjalin kemitraan dengan pemerintah, lembaga pembiayaan pembangunan, serta institusi multilateral untuk menyalurkan skema blended finance bagi pelaku UMKM. Digitalisasi disebut menjadi salah satu kunci memperluas jangkauan pembiayaan hingga tingkat desa. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat meningkatkan efisiensi, memperluas akses pembiayaan, sekaligus mendukung penerapan prinsip ESG hingga segmen UMKM.
Komitmen tersebut, menurut BRI, tercermin pada portofolio perusahaan. Hingga September 2025, porsi kredit UMKM konsolidasian BRI mencapai 80,02 persen dari total kredit, setara Rp1.150 triliun.
Selain pembiayaan, BRI menyatakan turut memperkuat kapasitas pelaku UMKM melalui program Desa BRILiaN, Klasterku Hidupku, dan platform LinkUMKM. Platform tersebut disebut telah dimanfaatkan lebih dari 14,98 juta pelaku usaha di seluruh Indonesia.
Hery menegaskan, keberlanjutan yang sesungguhnya terjadi ketika pembiayaan mampu menjangkau petani, pelaku usaha mikro, dan masyarakat di wilayah perdesaan. Ia menyebut pertumbuhan inklusif tidak akan terwujud tanpa UMKM yang ikut bergerak maju.

