PACITAN—Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menyoroti pentingnya pengawasan ketat di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama sejak tahap awal kedatangan bahan baku. Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan ketelitian dalam pemilihan bahan menjadi kunci untuk mencegah insiden keamanan pangan.
Dalam pengarahan kepada para Ahli Gizi, Akuntan, dan Chef se-Kabupaten Pacitan, Ponorogo, dan Trenggalek di Hurya Ballroom, Pacitan, akhir pekan lalu pada Februari 2026, Nanik meminta pengawas gizi, pengawas keuangan, dan Asisten Lapangan (Aslap) melakukan pengecekan bersama saat bahan baku tiba di dapur Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG).
Nanik menilai kesalahan memilih bahan sejak awal dapat berujung pada risiko yang serius. Ia meminta bahan yang menunjukkan tanda-tanda tidak layak segera ditolak dan dikembalikan kepada mitra penyedia. “Bahan baku kalau memang dari awal sudah ada tanda-tanda ayam itu nggak sehat, sayuran nggak sehat, tahu mungkin nggak sehat, segera kembalikan ke mitra,” ujar Nanik dalam siaran pers yang diterima Kompas.tv, Senin (9/2).
Selain kualitas bahan, Nanik juga menyoroti praktik intervensi mitra SPPG yang kerap terjadi di dapur MBG. Ia meminta pengawas gizi dan pengawas keuangan bersikap tegas apabila mitra mencoba mengubah menu yang sudah disusun oleh Ahli Gizi.
Menurut Nanik, alasan seperti Ahli Gizi yang dinilai masih junior atau dianggap tidak memahami harga pangan kerap dipakai untuk menekan dapur agar mengikuti keinginan mitra. Ia menegaskan penyusunan menu merupakan kewenangan Ahli Gizi dan tidak boleh diubah oleh mitra.
“Laporkan ke saya. Kalau ada intervensi saya tutup langsung dapurnya. Nggak boleh… Nggak boleh… (Penyusunan menu) nggak ada urusan dengan Mitra. Apalagi mengubah menu (yang telah disusun) Ahli Gizi. Kalau ada yang berani mengubah, saya suspend! Biar mereka rasakan,” kata Nanik. Ia juga menjabat Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga Pelaksana Program MBG.
Ia menilai intervensi tersebut bukan semata bentuk kepedulian, melainkan upaya menekan biaya untuk meraih keuntungan lebih besar. “Karena saya tahu, mereka akan memilihkan produk yang kurang bagus, supaya bisa ambik untung banyak. Awas saja! Ini yang bikin keracunan mulai dari pemilihan bahan baku yang nggak bener,” ujarnya.

