BERITA TERKINI
Bakso Qiana di Tebo: Menjaga Konsistensi Rasa, Membuka Lapangan Kerja, hingga Ekspansi ke Bungo

Bakso Qiana di Tebo: Menjaga Konsistensi Rasa, Membuka Lapangan Kerja, hingga Ekspansi ke Bungo

TEBO – Di tengah pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Provinsi Jambi, Bakso Qiana menjadi salah satu nama yang menonjol di Kabupaten Tebo dan sekitarnya. Usaha kuliner ini berkembang dari warung sederhana menjadi tujuan makan yang ramai dikunjungi, sekaligus memberi dampak ekonomi bagi lingkungan sekitar.

Bakso Qiana berlokasi di Jalan Lintas Tebo–Jambi Km 02, Bedaro Rampak, Kecamatan Tebo Tengah, tepat di seberang Toko Cat Jotun. Sejak siang hingga malam, antrean pembeli kerap terlihat untuk menikmati menu andalan mereka, Bakso Kuah Merapi.

Di tengah menjamurnya usaha makanan modern dan waralaba, Bakso Qiana mempertahankan ciri khas tradisional dengan sentuhan inovasi yang dekat dengan selera masyarakat. Ramainya pelanggan setiap hari juga mencerminkan bagaimana sektor kuliner lokal kini tidak hanya bertumpu pada rasa, tetapi juga pengalaman dan identitas.

Salah satu strategi yang disebut menjadi kekuatan Bakso Qiana adalah konsistensi rasa. Varian bakso urat dengan tekstur padat dan kenyal menjadi menu yang banyak dicari, sementara bakso kriwil menawarkan sensasi gurih yang berbeda. Keduanya dipadukan dengan kuah merapi yang pedas menyengat namun tetap segar, yang disebut membuat pelanggan datang kembali, termasuk dari luar daerah.

Dari sisi harga, Bakso Qiana menawarkan satu porsi dengan kisaran Rp10 ribu hingga Rp20 ribu. Rentang harga tersebut membuatnya terjangkau bagi berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pekerja harian, hingga keluarga. Pilihan topping seperti sosis serta varian double topping juga menjadi cara untuk memberi variasi menu, terutama bagi konsumen muda.

Pemilik Bakso Qiana, Muhtadin, mengatakan perjalanan usaha selama kurang lebih enam tahun tidak berjalan mudah. Persaingan kuliner yang kian ketat mendorongnya terus berinovasi agar tetap relevan dan diminati pelanggan. Ia menilai keberhasilan usaha tidak semata diukur dari ramainya pengunjung, tetapi juga dari dampak sosial yang menyertai pertumbuhan bisnis.

Saat ini, Bakso Qiana mempekerjakan 10 orang karyawan. Menurut Muhtadin, keberadaan usaha tersebut ikut membantu perekonomian keluarga warga sekitar, terutama setelah masa sulit pascapandemi. “Kami bersyukur usaha ini tidak hanya bisa menghidupi keluarga, tetapi juga bisa menjadi jalan rezeki bagi 10 karyawan yang membantu kami sehari-hari,” ujar Muhtadin.

Seiring meningkatnya permintaan pelanggan, Bakso Qiana juga melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru di Dusun Lubuk Landai, Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, Kabupaten Bungo. Pembukaan cabang ini disebut menjadi jawaban bagi pelanggan yang sebelumnya harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk menikmati menu Bakso Qiana.

Dengan langkah tersebut, Muhtadin berharap kualitas rasa dan pelayanan tetap terjaga seperti di pusat usaha mereka di Tebo. Kisah Bakso Qiana pun menjadi gambaran peran UMKM dalam ekonomi daerah—tumbuh melalui kreativitas, kedekatan dengan konsumen, dan keberanian berinovasi, sekaligus menyerap tenaga kerja di tingkat lokal.