BERITA TERKINI
Asal-usul dan Makna Mi Panjang Umur, Tradisi Kuliner yang Melekat pada Perayaan Imlek 2026

Asal-usul dan Makna Mi Panjang Umur, Tradisi Kuliner yang Melekat pada Perayaan Imlek 2026

Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 kembali diwarnai beragam tradisi kuliner yang sarat simbol. Salah satu hidangan yang hampir selalu hadir di meja makan keluarga Tionghoa adalah mi panjang umur.

Mi panjang umur dipandang bukan sekadar makanan, melainkan simbol doa dan harapan akan kehidupan yang panjang serta kesehatan yang berkelanjutan. Panjang mi dipercaya merepresentasikan usia yang panjang dan kehidupan yang utuh. Karena itu, mi dibuat lebih panjang dari mi pada umumnya dan disajikan tanpa dipotong.

Dalam tradisi, mi panjang umur kerap dianggap sebagai hidangan wajib saat perayaan Imlek. Selain itu, sajian ini juga sering dihidangkan pada momen-momen khusus lain seperti ulang tahun, pernikahan, dan perayaan tertentu. Harapan utama dari penyajiannya adalah agar seseorang diberi umur panjang dan kesehatan yang baik. Di sejumlah daerah, mi dibuat sangat panjang dan disajikan utuh tanpa terputus sebagai simbol kesinambungan hidup.

Hidangan ini disebut sebagai tradisi khas Kanton yang telah lama hadir dalam perayaan momen istimewa. Praktik tersebut terus bertahan hingga kini dan dijalankan oleh masyarakat Tionghoa di berbagai negara, termasuk Indonesia, terutama menjelang Imlek 2026.

Secara tradisional, mi panjang umur disajikan menggunakan i fu mie atau yi mein yang dimasak dalam kuah, lengkap dengan daging kepiting. Jenis mi ini dikenal memiliki harga lebih mahal dibandingkan mi lainnya sehingga dianggap pantas untuk perayaan penting. Sementara itu, daging kepiting dipandang sebagai bahan premium, khususnya oleh generasi yang lebih tua. Kombinasi tersebut kerap dimaknai sebagai bentuk penghormatan sekaligus doa terbaik bagi orang yang merayakan momen spesial.

Adapun asal-usul tradisi mi panjang umur dipercaya bermula pada masa Dinasti Han yang memerintah dari 202 Sebelum Masehi hingga 9 Masehi. Kisahnya dikaitkan dengan percakapan Kaisar Wu dengan para menterinya mengenai philtrum, yakni jarak antara hidung dan mulut. Kaisar Wu berpendapat setiap satu sentimeter philtrum melambangkan usia 100 tahun.

Pendapat itu ditertawakan oleh salah satu menterinya, Dong Fangshou, yang membayangkan betapa panjang wajah Peng Zu, sosok legendaris yang dipercaya hidup hingga 833 tahun. Meski dianggap keliru, pemikiran Kaisar Wu kemudian berkembang menjadi simbolisme yang bertahan hingga kini, termasuk dalam tradisi menyantap mi panjang umur pada perayaan Imlek.