DENPASAR – Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Jasaboga Indonesia (DPD APJI) Bali mendorong pelaku usaha jasa boga di Bali untuk naik kelas dengan memperkuat standar higienitas dan keamanan pangan, meningkatkan pengelolaan limbah makanan (food waste), serta memperkuat identitas kuliner lokal.
Upaya tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) I DPD APJI Bali 2026 yang digelar di Inna Bali Heritage, Denpasar, Senin (25/5/2026).
Ketua Panitia Rakerda APJI Bali, Yoke Darmawan, menilai industri jasa boga kini memiliki posisi strategis dalam mendukung pariwisata dan perekonomian daerah. Menurutnya, peran APJI Bali tidak hanya sebatas penyedia layanan konsumsi untuk kegiatan pariwisata, tetapi juga bagian dari upaya membangun ketahanan pangan dan industri kuliner yang profesional.
“Di tengah meningkatnya kebutuhan terhadap makanan yang aman, higienis dan berkualitas, APJI Bali diharapkan hadir sebagai mitra pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dalam membangun industri jasa boga yang lebih profesional, terpercaya dan berdampak,” kata Yoke.
Ia menekankan penguatan industri jasa boga perlu didorong melalui kolaborasi lintas sektor. Karena itu, Rakerda APJI Bali juga diisi penandatanganan nota kesepahaman (MoU) serta pelantikan DPC APJI kabupaten/kota se-Bali.
Selain agenda organisasi, forum tersebut menghadirkan sesi talkshow yang membahas pengelolaan food waste. Yoke menyebut isu limbah makanan semakin penting seiring perkembangan pariwisata Bali yang mulai mengarah pada konsep keberlanjutan.
“Waste management menjadi rangkaian penting ketika kita bicara sustainability, pengelolaan organik dan penguatan standar layanan jasa boga,” ujarnya.
Ketua DPD APJI Bali, I G.A. Agung Inda Trimafo Yudha, mengatakan sidang pleno Rakerda membahas tiga komisi utama, yakni Komisi A tentang organisasi dan AD/ART, Komisi B terkait program kerja DPD 2026–2027, serta Komisi C mengenai keuangan organisasi.
Rakerda juga diramaikan dengan Sustainable Market yang menghadirkan produk ekonomi kreatif, makanan tradisional, kuliner, gastronomi, hingga wine lokal Bali. Di sisi lain, APJI Bali menggelar kompetisi nasi jingo sebagai bentuk apresiasi terhadap kuliner tradisional Bali.
Inda menyatakan APJI Bali ingin mendorong makanan lokal memiliki nilai ekonomi lebih tinggi melalui pendekatan gastronomi dan pengemasan modern.
“Kita ingin mengangkat makanan-makanan lokal yang selama ini dianggap biasa saja menjadi produk yang punya nilai tambah tinggi. Kalau dikemas dengan konsep gastronomi, makanan warung pun bisa menjadi sesuatu yang bernilai besar,” ujarnya.

