BERITA TERKINI
YAICI dan Aisyiyah Gelar Edukasi Gizi Pascabencana di Besitang, Fokus pada Ibu dan Balita

YAICI dan Aisyiyah Gelar Edukasi Gizi Pascabencana di Besitang, Fokus pada Ibu dan Balita

Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama Majlis Kesehatan Pimpinan Pusat Aisyiyah menggelar pembekalan kader edukasi gizi bagi masyarakat di Dusun Seusirah, Desa Bukit Selamat, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Jumat (24/4/2026).

Kegiatan ini dilakukan sebagai respons pascabencana banjir bandang di Sumatera. Program tersebut berfokus pada pemenuhan gizi anak di wilayah terdampak, trauma healing anak, edukasi interaktif, sesi edukasi gizi bagi ibu dan balita, serta penyaluran paket bantuan untuk balita.

Media Relations YAICI, Fahri, menyampaikan bahwa pihaknya menaruh perhatian pada isu anak dan ibu dalam rangka mendukung target Indonesia Emas 2045. Ia mengatakan YAICI bermitra dengan Aisyiyah, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Muslimat NU, serta para akademisi.

Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, dr Hirfa Turrahmi, menjelaskan kerja sama Aisyiyah dan YAICI telah berjalan sejak 2018. Menurutnya, kolaborasi tersebut ditujukan agar kader-kader di daerah mampu memberikan edukasi kepada masyarakat.

Dalam kegiatan di Besitang, dr Hirfa menyebut edukasi diberikan kepada ibu yang memiliki balita, ibu menyusui, dan ibu hamil terkait penyediaan makanan sehat dan bergizi. Ia menambahkan, kali ini kegiatan lebih difokuskan pada sasaran pascabencana.

Menurut dr Hirfa, dampak pascabencana dapat memicu krisis gizi, terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Karena itu, edukasi dinilai mendesak untuk membantu masyarakat mengelola kebutuhan gizi setelah bencana, termasuk menyiapkan asupan bagi balita serta memastikan makanan sehat bagi ibu hamil dan menyusui.

Ia berharap upaya tersebut dapat mencegah peningkatan angka stunting setelah bencana dalam rangka menuju Indonesia Emas 2045. dr Hirfa juga mengingatkan makanan instan tidak seharusnya dikonsumsi terlalu lama. “Ini kan sudah 5 bulan pascabanjir. Mestinya 4 bulan itu sudah diberi makanan sehat,” ujarnya.

Sementara itu, PW Aisyiyah Sumut dr Yulia Avriana Nasution MKM SPKKLP mengingatkan risiko kesehatan dari konsumsi gula, termasuk dari susu kental manis, jika berlebihan. Ia menyebut kandungan gula pada susu kental manis lebih tinggi dibanding kandungan susunya.

dr Yulia menekankan konsumsi gula perlu dibatasi. Ia juga menyampaikan adanya kasus gagal ginjal pada anak-anak berusia di bawah 10 tahun yang dikaitkan dengan konsumsi gula berlebihan. Menurutnya, konsumsi gula berlebih dapat memperberat kerja ginjal dan merusak pankreas.