Wisata kuliner di Vietnam kian menjadi magnet bagi wisatawan, seiring meningkatnya minat terhadap pengalaman makan yang terhubung dengan budaya lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, Kota Ho Chi Minh dan wilayah Barat Daya Vietnam—termasuk Can Tho, An Giang, dan Vinh Long—semakin ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan dan musim puncak wisata.
Beragam produk wisata berbasis kuliner berkembang di kawasan ini, mulai dari pasar malam, jalanan kuliner, desa kerajinan tradisional, hingga tur yang menawarkan pengalaman mencicipi makanan lokal. Agen perjalanan mencatat, paket yang menggabungkan kunjungan ke pasar tradisional, kelas memasak, dan sesi mencicipi hidangan khas semakin diminati oleh pengunjung domestik maupun internasional.
Di Kota Ho Chi Minh, jalanan kuliner, pasar malam, dan warung makan tradisional menjadi titik keramaian yang menawarkan aneka hidangan populer seperti pho, banh mi, com tam, bun thit nuong (daging babi panggang dengan bihun), serta hu tieu (sup mi). Sementara itu, wilayah Barat Daya Vietnam dikenal dengan menu khas seperti ikan gabus panggang, hotpot saus ikan, banh xeo (panekuk gurih Vietnam), banh tet la cam (kue beras ketan yang dibungkus daun ungu), serta beragam kue tradisional dan buah-buahan lokal.
Tren wisata pun bergeser dari sekadar berkunjung menjadi pengalaman yang lebih imersif. Banyak tur kini memasukkan agenda memasak, kunjungan ke pasar terapung, desa kerajinan tradisional, hingga kebun buah-buahan. Pendekatan ini dinilai membantu wisatawan memahami budaya setempat melalui makanan.
Seorang wisatawan asal Kota Ho Chi Minh, Pham Hong Tham, mengaku terkesan setelah mengikuti wisata komunitas di Nhi Hoa, Vinh Long. Ia menilai kuliner otentik Delta Mekong dan pengalaman kehidupan lokal membuat perjalanannya berkesan. Menurutnya, hidangan seperti banh la mo (kue beras yang dibungkus daun pisang), banh xeo, babi rebus dengan santan, serta ikan air tawar bakar memiliki cita rasa unik, bahan segar, dan penyajian sederhana namun kaya rasa.
Dalam kunjungan tersebut, wisatawan tidak hanya mencicipi makanan, tetapi juga ikut serta membuat kue tradisional dan memasak bersama warga setempat. “Saya merasa wisata komunitas di sini sangat menarik. Pengunjung tidak hanya menikmati makanan tetapi juga merasakan kehidupan masyarakat setempat. Masakannya sederhana namun lezat dan sangat berakar pada identitas daerah. Saya pasti akan kembali dan merekomendasikan tempat ini kepada teman-teman saya,” ujar Pham Hong Tham.
Daya tarik lain datang dari kudapan khas Delta Mekong seperti kue pisang dan jeli rumput laut yang memicu rasa ingin tahu wisatawan. Agen perjalanan di Kota Ho Chi Minh menilai desa wisata Nhi Hoa perlahan menjadi destinasi menarik berkat pemanfaatan kuliner tradisional yang dipadukan dengan wisata komunitas. Wakil Direktur Institut Penelitian Pengembangan Ekonomi dan Pariwisata, Duong Duc Minh, menyebut destinasi ini menargetkan tiga nilai pengalaman—nilai simbolis, nilai sensorik, dan nilai tambah—dengan kuliner sebagai elemen kunci untuk membangun kesan yang bertahan lama.
Dalam skema wisata tersebut, rumah tangga yang terlibat menghadirkan hidangan tradisional seperti aneka kue, ikan air tawar, serta makanan berbahan dasar kelapa yang terkait dengan kisah kehidupan pedesaan. Pesan “Nhi Hoa - untuk mengingat, untuk menghargai” dibangun untuk menciptakan emosi dan koneksi, sehingga destinasi tidak hanya dipandang sebagai tempat berwisata, tetapi juga pengalaman budaya yang mendorong kunjungan berulang.
Minat pada kuliner sebagai alasan bepergian juga tercermin dalam laporan Agoda Travel Outlook 2026. Dalam survei itu, sekitar 35% wisatawan yang disurvei menyebut makanan sebagai salah satu alasan utama memilih destinasi. Survei yang sama menempatkan Vietnam di peringkat kedua di kawasan dalam hal memprioritaskan pengalaman kuliner lokal.
Country Director Agoda Vietnam, Vu Ngoc Lam, menilai bagi banyak wisatawan, perjalanan terasa lengkap ketika mereka dapat menikmati makanan khas setempat. Karena itu, destinasi dengan tradisi kuliner yang kuat dinilai memiliki keunggulan untuk menarik wisatawan sekaligus memperpanjang durasi kunjungan.
Pelaku industri pariwisata juga melihat perubahan preferensi wisatawan yang tidak hanya ingin mencicipi, tetapi juga menyaksikan proses persiapan serta memahami kisah budaya di balik setiap hidangan. Ketua dan Direktur Jenderal Perusahaan Gabungan Pariwisata dan Jasa Perdagangan TST (TSTtourist), Lai Minh Duy, mengatakan kuliner semakin dipandang sebagai konten penting dalam desain wisata, terutama untuk pasar internasional. Menurutnya, banyak rombongan wisata bersedia meluangkan waktu menjelajahi kuliner lokal dari warung pinggir jalan hingga restoran tradisional.
Duy menambahkan, pengembangan produk pariwisata berbasis kekuatan kuliner dapat menciptakan keunggulan kompetitif yang jelas. Untuk memaksimalkannya, daerah perlu membangun identitas unik melalui tur tematik, ruang kuliner, festival, dan kegiatan pengalaman yang terkait budaya setempat.
Dari sisi asosiasi, Presiden Asosiasi Pariwisata Kota Ho Chi Minh, Nguyen Thi Khanh, menyatakan masakan Vietnam konsisten mendapat pengakuan dalam peringkat internasional, termasuk adanya restoran yang meraih bintang Michelin. Menurutnya, promosi dan perayaan kuliner Vietnam menjadi saluran efektif untuk meningkatkan daya saing destinasi di pasar internasional. Ia juga menilai meningkatnya kehadiran kuliner Vietnam di media internasional turut membangkitkan minat wisatawan asing untuk memilih Vietnam sebagai tujuan.
Wakil Presiden Asosiasi Koki Profesional Saigon, Tran Thi Hien Minh, menekankan bahwa di tengah persaingan yang semakin ketat, kuliner merupakan faktor penting dalam mendefinisikan identitas pariwisata Vietnam. Ia menilai setiap hidangan tidak hanya menghadirkan cita rasa, tetapi juga mencerminkan kisah budaya, sejarah, dan gaya hidup tiap daerah. Karena itu, penguatan merek kuliner nasional dan pengembangan produk wisata khusus dinilai penting agar kuliner menjadi bagian inti perjalanan, sekaligus berkontribusi memperpanjang masa tinggal dan meningkatkan nilai belanja wisatawan.

