JAKARTA — Unilever menjual sebagian besar bisnis makanannya kepada McCormick dengan nilai US$15,7 miliar. Langkah ini dipandang menegaskan perubahan besar di industri barang konsumsi global, di mana perusahaan-perusahaan besar mulai meninggalkan model konglomerasi dengan banyak kategori produk dan beralih ke strategi yang lebih fokus pada segmen yang dinilai paling kuat dan menguntungkan.
Perubahan strategi tersebut terjadi seiring memudarnya lonjakan harga pascapandemi serta melambatnya pertumbuhan di pasar besar seperti China. Dalam kondisi ini, pelaku industri menilai ukuran perusahaan tidak lagi menjadi faktor utama. Sebaliknya, relevansi merek di mata konsumen dan efisiensi penggunaan modal menjadi penentu daya saing.
Kesepakatan Unilever dan McCormick mencerminkan tren yang menitikberatkan dominasi pada kategori spesifik, bukan sekadar memiliki portofolio merek yang beragam namun tidak saling terkait. Konsultan Ernst & Young menilai banyak perusahaan barang konsumsi menghadapi risiko kehilangan relevansi jika tidak beradaptasi dengan perubahan preferensi pasar.
Unit makanan yang dilepas Unilever mencakup merek seperti Hellmann’s dan Marmite. Ke depan, perusahaan asal Inggris itu disebut akan memperkuat fokus pada segmen perawatan kesehatan dan kecantikan, melalui merek seperti Dove, Dermalogica, dan TRESemmé yang dinilai memiliki pertumbuhan lebih tinggi dan margin lebih besar.
Sebelumnya, Unilever juga telah memisahkan bisnis es krimnya menjadi entitas mandiri melalui merek Magnum. Langkah serupa disebut juga dilakukan Nestlé, yang berencana melepas bisnis es krim guna memusatkan perhatian pada merek inti dengan kinerja paling kuat.
Di industri yang sama, konsolidasi besar turut terjadi melalui kerja sama Kimberly-Clark dan Kenvue yang menggabungkan merek seperti Huggies, Kleenex, Band-Aid, dan Tylenol untuk memperkuat bisnis dengan margin lebih tinggi. Selain itu, otoritas Eropa juga telah menyetujui akuisisi senilai US$36 miliar oleh Mars terhadap Kellanova, yang bertujuan membentuk raksasa makanan ringan global.
Para analis menilai arah strategi baru ini bertumpu pada “hak untuk menang” dalam kategori tertentu. Artinya, perusahaan perlu memiliki posisi dominan agar mampu mempertahankan pertumbuhan dan daya saing di pasar yang semakin ketat.

