BERITA TERKINI
UMKM Kuliner di Samarinda Bertahan Lewat Inovasi Produk dan Penyesuaian Bahan Baku

UMKM Kuliner di Samarinda Bertahan Lewat Inovasi Produk dan Penyesuaian Bahan Baku

Pelaku UMKM kuliner di Samarinda terus mengandalkan inovasi produk untuk menjaga daya saing di tengah perubahan tren dan tantangan pasar. Variasi produk serta kemasan yang menarik dinilai menjadi strategi penting agar produk tetap diminati konsumen di era modern.

Owner “Lauknya Nusantara”, Devita Mardiana, mengatakan pihaknya menghadirkan beragam pilihan makanan olahan yang praktis sekaligus mengikuti selera pasar. Selain sambal dan ayam ungkep, usahanya kini mengembangkan produk lain seperti cireng, risol, hingga chicken katsu. Hal itu ia sampaikan dalam dialog program UMKM Bicara Pro1 Samarinda, dikutip Kamis, 30 April 2026.

“Produk kami sekarang ada cireng dengan cocolan, risol dengan beberapa varian, dan juga chicken katsu,” ujar Devita.

Salah satu produk unggulan yang ditawarkan adalah chicken katsu dengan konsep potongan kecil yang praktis untuk bekal. “Kami sebut pop chick karena bentuknya kecil-kecil, cocok untuk bekal anak dan terlihat menarik,” katanya.

Inovasi juga dilakukan pada risol dengan varian rasa yang tidak umum. Menurut Devita, varian seperti matcha dan cokelat menjadi daya tarik bagi konsumen yang menginginkan pilihan camilan berbeda. “Risol kami ada varian seperti matcha dan cokelat, jadi tidak hanya rasa gurih saja,” ucapnya.

Meski terus berinovasi, Devita mengakui perjalanan usaha tidak lepas dari tantangan, terutama terkait harga bahan baku. Ia menyebut kenaikan harga bahan menjadi kendala utama yang masih dihadapi. “Tantangan terbesar adalah harga bahan baku yang fluktuatif dan cenderung terus naik,” ujarnya.

Di sisi lain, ia menekankan bahan baku harus tetap berkualitas agar cita rasa produk terjaga. “Kami tetap menggunakan bahan yang fresh dan berkualitas, sehingga harganya memang mengikuti pasar,” kata Devita.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, ia melakukan penyesuaian tanpa mengorbankan kualitas secara keseluruhan, salah satunya dengan mengatur komposisi bahan agar harga jual tetap terjangkau. “Kami tidak menaikkan harga, tetapi menyesuaikan komposisi bahan supaya tetap seimbang,” ucapnya.

Devita menilai kunci bertahan di industri kuliner adalah konsistensi kualitas dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi pasar. Ia berharap inovasi yang terus dilakukan dapat menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memperluas jangkauan pasar. “Yang penting kualitas tetap dijaga dan inovasi terus berjalan agar usaha bisa bertahan,” ujarnya.