BERITA TERKINI
Tujuh Pola Kerja UMKM Kuliner Tiongkok yang Membuat Produk Cepat Viral, Apa Pelajarannya untuk Indonesia?

Tujuh Pola Kerja UMKM Kuliner Tiongkok yang Membuat Produk Cepat Viral, Apa Pelajarannya untuk Indonesia?

Produk-produk kuliner UMKM di Tiongkok kerap cepat menjadi perbincangan, mulai dari roti berbentuk karakter hingga kemasan kue dengan ilustrasi khas. Dalam banyak kasus, produk yang viral itu juga segera tersedia luas dalam waktu singkat. Fenomena ini dinilai bukan semata kebetulan, melainkan terkait pola kerja yang konsisten dan sistematis.

Pengamatan di sejumlah pameran kuliner dan bakery di Tiongkok menunjukkan perbedaan kebiasaan kerja pelaku usaha kecil di sana dibanding banyak UMKM di Indonesia. Perbedaan tersebut disebut tidak selalu bertumpu pada besarnya modal, melainkan pada cara berpikir dan eksekusi yang lebih terstruktur. Tujuh kebiasaan berikut kerap terlihat menonjol, sekaligus relevan untuk dibaca dalam konteks penguatan UMKM kuliner Indonesia.

Posisi UMKM Indonesia: besar secara jumlah, tertantang dari sisi sistem

Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat Indonesia memiliki lebih dari 64 juta UMKM. Sektor ini menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja. Dari sisi skala, UMKM merupakan kekuatan ekonomi utama.

Namun, kesiapan digital dan penguatan sistem masih menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan data BPS tahun 2023, sekitar 24,5% UMKM di Indonesia telah terhubung dengan platform digital. Sementara itu, riset Google dan Temasek menunjukkan digitalisasi berpotensi meningkatkan produktivitas UMKM hingga 35%. Gambaran ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi dan realisasi, yang berkaitan dengan kecepatan adaptasi sistem, bukan semata kreativitas.

Tujuh kebiasaan yang kerap terlihat pada UMKM kuliner Tiongkok

1. Bergerak cepat tanpa menunggu sempurna
Pelaku UMKM kuliner di Tiongkok kerap meluncurkan produk lebih dulu, melakukan uji pasar secara agresif, lalu memperbaiki menu berdasarkan respons pelanggan. Prinsipnya, lebih baik mencoba cepat daripada terlalu lama merencanakan. Dalam konteks ini, UMKM dinilai bisa tertinggal bukan karena kualitas lebih rendah, melainkan karena terlambat memulai.

2. Menggarap visual dan kemasan secara serius
Kemasan diperlakukan sebagai alat pemasaran. Desain toko dan tampilan produk dijaga konsisten, dengan pemahaman bahwa konsumen modern sering kali mengambil keputusan awal lewat tampilan. Karena itu, packaging dipandang sebagai investasi persepsi merek, bukan sekadar biaya.

3. Memakai teknologi untuk hal-hal sederhana
Berbagai teknologi operasional digunakan untuk efisiensi, seperti pemesanan via QR, live commerce, pembayaran digital, hingga otomasi sederhana. Penggunaan ini disebut bukan untuk gaya, melainkan untuk mengurangi friksi operasional dan meningkatkan produktivitas, selaras dengan temuan bahwa digitalisasi berkorelasi dengan kenaikan produktivitas usaha.

4. Cepat membaca dan mengeksekusi tren
Pelaku usaha aktif memantau tren di platform seperti Douyin dan Xiaohongshu, lalu mengeksekusinya dalam hitungan hari. Inti pelajarannya, tren tidak ditunggu, melainkan dibaca dan segera dijalankan sebelum momentum lewat.

5. Berani fokus pada volume
Banyak usaha mengandalkan margin kecil dengan volume tinggi. Sistem produksi disiapkan agar bisa ditingkatkan skalanya sejak awal. Orientasinya bergeser dari “untung besar per produk” menjadi “menjual lebih banyak dengan proses yang semakin efisien”.

6. Belajar meniru sebelum berinovasi
Meniru model yang sudah terbukti, memodifikasi, mempercepat eksekusi, lalu membuat versi yang lebih baik dipandang sebagai jalur belajar yang wajar. Dalam pola ini, inovasi sering lahir dari kemampuan beradaptasi cepat, bukan selalu dari ide yang sepenuhnya orisinal sejak awal.

7. Mental kompetisi yang kuat
Persaingan pasar kuliner yang ketat membuat pelaku usaha terbiasa cepat berubah, cepat belajar, dan cepat memperbaiki kesalahan. Tekanan kompetisi, alih-alih mematikan, justru membentuk daya tahan bisnis.

Apa artinya bagi UMKM kuliner Indonesia

Tujuh kebiasaan tersebut dinilai bukan hal yang mustahil diterapkan di Indonesia. Indonesia memiliki kekuatan rasa lokal, pasar domestik besar, kreativitas, dan keragaman kuliner. Namun, aspek yang perlu diperkuat adalah kecepatan eksekusi, disiplin sistem, keberanian beradaptasi, serta pola pikir bertumbuh.

Sejumlah program pemerintah seperti UMKM Go Digital telah mengarah pada penguatan digitalisasi, termasuk dorongan penggunaan QRIS, pelatihan pemasaran digital, dan integrasi ke marketplace. Meski demikian, hasil akhirnya tetap bergantung pada kesediaan pelaku usaha mengubah kebiasaan kerja, bukan hanya menunggu dukungan dari luar.

Risiko jika ditiru tanpa konteks

Strategi yang terlihat efektif di satu tempat tidak selalu aman diterapkan mentah-mentah. Fokus pada volume tanpa perhitungan margin dapat menekan arus kas, terutama bagi usaha mikro bermodal terbatas. Kecepatan meluncurkan produk juga perlu diimbangi standar keamanan pangan dan pemenuhan legalitas agar tidak melanggar ketentuan. Sementara adopsi teknologi sebaiknya dimulai dari kebutuhan nyata usaha, bukan sekadar mengikuti tren, agar biaya sebanding dengan efisiensi yang dihasilkan.

Kecepatan sebagai keberanian eksekusi

Secara konsep, kebiasaan seperti bergerak cepat, menjaga visual, memanfaatkan teknologi sederhana, mengikuti tren, mengejar efisiensi, belajar dari praktik yang sudah berhasil, dan bertahan dalam kompetisi bukan hal baru dalam dunia bisnis. Pembeda utamanya disebut terletak pada keberanian mengeksekusinya secara konsisten, bahkan ketika semuanya belum terasa sempurna.