Cabai menjadi salah satu bahan penting dalam berbagai masakan. Karena itu, sebagian orang memilih menanam cabai sendiri di halaman rumah agar bisa dipetik sewaktu-waktu sekaligus dijadikan stok.
Menanam cabai kerap dianggap mudah dilakukan, termasuk di lahan sempit. Selain menghasilkan buah, tanaman ini juga bisa membuat halaman terlihat lebih asri. Namun, tidak sedikit orang yang hasil tanamannya jauh dari harapan. Alih-alih berbuah lebat, tanaman cabai justru rusak, cepat layu, bahkan mati.
Salah satu masalah yang sering muncul adalah daun cabai yang keriting atau mengerut. Seorang petani organik dari kanal YouTube BALI ISLAND ORGANIC FARM TV menjelaskan bahwa daun yang mengerut dapat mengganggu proses fotosintesis. Kondisi ini membuat tanaman tidak dapat “memasak” makanannya sendiri, yang kemudian berdampak pada kesehatan akar dan kemampuan menyerap nutrisi.
“Daun yang mengerut seperti ini tidak akan mampu melakukan fotosintesis secara sempurna, sehingga tanaman tidak dapat memasak makanannya sendiri. Dan ini akan menyebabkan akar tidak sehat dan maksimal dalam menyerap nutrisi. Ini seperti lingkaran setan, saling memengaruhi. Dan pada akhirnya yang paling merana adalah tanaman itu sendiri, karena akan kerdil atau bahkan mati,” ujarnya, dikutip Selasa (31/10).
Ketika daun dan akar tidak bekerja maksimal, pertumbuhan buah pun ikut terdampak. Tanaman bisa gagal tumbuh dan akhirnya tidak berbuah. Masalah tersebut dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari kekurangan air, kurang perawatan, hingga serangan hama seperti kutu putih.
Dalam kondisi seperti itu, sebagian orang memilih mencabut tanaman karena dianggap tidak bisa diselamatkan. Padahal, menurut laporan tersebut, kesuburan tanaman cabai masih bisa dipulihkan dengan cara dan bahan tertentu. Disebutkan, salah satu trik yang digunakan bukan pupuk, melainkan memanfaatkan satu bumbu dapur.

