Setiap malam, saat pasar tradisional di Kota Semarang mulai sepi dan lapak-lapak ditinggalkan pedagang, Tri Martono menyusuri lorong-lorong gelap sambil membawa bungkusan pakan kucing dan senter. Pria yang akrab disapa Tono itu mendatangi pasar demi satu tujuan: memberi makan dan memeriksa kondisi kucing-kucing tak bertuan.
Pada Rabu malam, 16 Februari 2022 sekitar pukul 22.00, Tono terlihat menaruh pakan berbentuk snack ikan di atas kertas di lantai pasar kawasan Banyumanik, Semarang atas. Tak lama berselang, beberapa kucing datang mendekat dan mulai melahap makanan. Di sela kegiatan itu, ia mengangkat salah satu kucing untuk mengecek kondisi tubuhnya, dari mata hingga telinga.
Tono juga membawa perlengkapan sederhana untuk penanganan awal. Ia mengambil obat tetes mata dari tas punggungnya, membersihkan mata kucing dengan tisu, lalu meneteskan obat dengan hati-hati.
Berawal dari kebiasaan pulang larut
Tono (30) mengatakan aktivitas memberi makan kucing liar atau street feeding telah ia lakukan sejak 2017. Ia mengaku mulanya hanya memberi sisa makanan ketika pulang larut usai bekerja dan berkumpul bersama teman. Namun, kebiasaan kecil itu berkembang menjadi rutinitas.
Ia kerap melihat puluhan kucing mengais makanan di tempat sampah, terutama di pasar dekat rumahnya. Dari situ, ia mulai rutin membawa pakan. Jika awalnya hanya satu bungkus, jumlahnya meningkat hingga lima bungkus atau sekitar 5 kilogram pakan kucing per malam yang dibagikan di pasar-pasar tradisional.
Menyisihkan gaji dan memanfaatkan sisa makanan
Tono bekerja sebagai penjaga komplek di salah satu perumahan di Kota Semarang dengan gaji sekitar Rp2 juta per bulan. Ia menyebut dalam sepekan bisa menghabiskan hingga Rp200 ribu untuk membeli pakan kucing.
Untuk menyiasati keterbatasan dana, ia juga meminta bantuan teman-temannya yang bekerja di rumah makan agar mengumpulkan sisa makanan pelanggan. Makanan itu kemudian ia ambil pada malam hari untuk dibagikan kepada kucing-kucing di pasar, terminal, atau tempat pembuangan sampah (TPS).
Tak hanya memberi makan, juga merawat
Menurut Tono, kucing-kucing yang ia temui tidak selalu dalam kondisi sehat. Ia mengaku sering melihat kucing dengan penyakit kulit berjamur hingga menimbulkan koreng, mata kotor dan berkerak, bahkan luka parah akibat tertabrak kendaraan.
Dalam kondisi tertentu, ia membawa kucing yang sakit ke rumah untuk dirawat sementara sampai membaik. Ia menyebut perawatan yang diberikan antara lain vitamin, obat cacing, dan obat jamur. Setelah kondisinya pulih, kucing-kucing itu biasanya dilepas kembali.
Lahirnya komunitas Catmeong
Ketekunan Tono menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Sekitar dua tahun terakhir, kegiatan yang semula ia lakukan sendirian mulai diikuti teman-temannya. Bersama delapan orang lainnya, Tono membentuk komunitas bernama Catmeong.
Mereka melakukan street feeding dari sekitar pukul 22.00 hingga 03.00. Tim dibagi menjadi tiga sampai empat kelompok untuk menyambangi sejumlah pasar tradisional di Kota Semarang.
Edukasi lewat media sosial dan dukungan dari YouTube
Kegiatan Catmeong juga dibagikan melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan YouTube sejak 2020. Tono mengatakan konten tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi agar masyarakat tidak membuang kucing ke pasar atau TPS. Ia menilai, membuang kucing di lokasi seperti itu tidak menjamin kebutuhan makan terpenuhi dan kucing tetap berisiko disakiti oleh orang yang menganggapnya mengganggu.
Tono menyebut kanal YouTube “cat meong” yang dikelola bersama teman-temannya telah memiliki 8,21 ribu pelanggan. Dari kanal tersebut, ia mengatakan ada pemasukan sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta setiap tiga bulan sekali. Ia menambahkan, dukungan itu membantu perawatan lebih dari 50 kucing di rumahnya, terutama yang sakit parah atau anak kucing tanpa induk.
Selain merawat, Tono juga berupaya mencarikan adopter dengan menawarkan kucing-kucing tersebut lewat media sosial atau membagikannya secara gratis melalui grup agar ada yang bersedia merawat.
Harapan adanya shelter
Bagi Tono, memberi makan dan merawat kucing liar memberi kepuasan batin dan membuatnya terus menjalankan rutinitas itu. Ia berharap pemerintah dapat menyediakan shelter untuk hewan seperti kucing dan anjing yang kerap disingkirkan.
Menurutnya, meski kucing identik sebagai hewan peliharaan, tidak semua beruntung mendapat perawatan. Ia menilai kepedulian terhadap kucing liar masih perlu ditingkatkan agar hewan-hewan di jalanan tetap memiliki kesempatan hidup yang layak tanpa dibuang atau disakiti.

