Pasar Babebo Jember, Destinasi Berburu Baju Bekas Impor Menjelang Lebaran

Pasar Babebo Jember, Destinasi Berburu Baju Bekas Impor Menjelang Lebaran

Berburu pakaian bekas menjadi salah satu pilihan bagi warga yang ingin tampil rapi dengan bujet terbatas, terutama menjelang Lebaran. Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Pasar Babebo dikenal sebagai salah satu tujuan utama pencari baju bekas impor dengan ragam model dan harga yang dinilai terjangkau.

Ramai pembeli saat barang baru datang

Pada Jumat (08/4/2022) siang, suasana Pasar Babebo terlihat cukup ramai. Irmawati (32), warga Kecamatan Puger, tampak memilih sejumlah outer seperti jaket, blazer, rompi, hingga kimono yang tergantung di lapak pedagang. Ia datang pada hari Jumat karena hari tersebut menjadi salah satu jadwal datangnya barang baru, selain Sabtu dan Minggu.

“Saat perjalanan ke Kota Jember dari arah Kecamatan Puger, saya selalu mengupayakan untuk bisa sekedar mampir untuk melihat-lihat barang di sini. Syukur-syukur kalau ketemu barang bagus dengan harganya cocok,” kata Irmawati.

Pasar Babebo berada di Dusun Karang Miuwo, Desa Mangli, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember. Lokasi ini disebut sebagai pasar baju bekas impor terbesar di Jember.

“Harta karun” pakaian bermerek dengan harga miring

Irmawati menilai Pasar Babebo menjadi alternatif bagi pembeli yang mengenal merek, tetapi mencari harga lebih murah. Ia mengaku pernah mendapatkan cardigan original dari merek terkenal seharga Rp35 ribu. Menurutnya, peluang menemukan barang bagus dengan harga terjangkau lebih besar jika pembeli mengetahui jadwal kedatangan barang dan mengenal pedagang.

“Alhamdulillah saya sering ke sini jadi kenal beberapa penjual, tak jarang terkadang saya meminta untuk menyisihkan barang dari brand tertentu,” ujarnya.

Meski berupa pakaian bekas, Irmawati menilai masih banyak barang yang kondisinya bagus jika dipilih dengan teliti. Ia juga menyebut tekstur kain sejumlah pakaian yang ditemuinya terasa halus dan berbeda dengan kain yang biasa ia jumpai di Indonesia.

Mahasiswa berburu gaya, sebagian untuk dijual lagi

Pengalaman serupa disampaikan Annisa Salsabila (20), mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Jember. Ia mengenal Pasar Babebo dari unggahan teman di media sosial. Ketika pertama kali datang, Annisa mengaku senang karena banyak pakaian asal Korea Selatan yang mengisi lapak pedagang.

Menurut Annisa, Pasar Babebo menjadi pilihan bagi mahasiswa perantauan yang ingin tetap tampil modis dengan bujet terbatas. Ia menyebut beragam model tersedia, mulai dari hoodie, trench coat, parka, hingga sweater.

Annisa juga melihat tidak sedikit pembeli yang datang untuk mencari barang yang kemudian dijual kembali melalui media sosial, praktik yang kerap disebut thrifting. Ia menilai hal itu memungkinkan karena harga di pasar relatif terjangkau dengan kualitas yang dianggap baik, sehingga masih ada peluang margin keuntungan. Baginya, modal penting saat berbelanja di Pasar Babebo adalah kemampuan menawar.

“Pasar ini cukup demokratis jika hanya untuk tawar menawar barang. Satu yang pasti, semakin sering ke sini skill tawar menawar akan selalu diuji,” ujar Annisa, mahasiswi asal Situbondo.

Pasar Babebo dan cerita di baliknya

Asal-usul nama Pasar Babebo belum diketahui pasti. Ada yang menyebut Babebo merupakan singkatan dari “Baju Bekas Bos”, namun kebenarannya tidak dapat dipastikan. Hal itu juga disampaikan Angga Prasetyo (38), salah satu pedagang di Pasar Babebo.

Angga, yang akrab disapa Pras, menuturkan pasar ini berawal dari masuknya barang-barang bekas dari luar negeri ke Indonesia. Melihat peluang, salah seorang warga mencoba menjual pakaian bekas impor dan kemudian berkembang. Ia menyebut rata-rata pedagang di Pasar Babebo berasal dari satu kampung, yakni Desa Bangsalsari, Kecamatan Bangsalsari, Jember.

Operasional pasar dan dinamika jual beli

Menurut Pras, menjelang Lebaran pasar biasanya ramai oleh pembeli dari berbagai daerah yang mencari kebutuhan, terutama pakaian. “Meski di sini baju bekas, tapi soal kualitas saya bisa jamin,” katanya.

Pasar Babebo buka setiap hari pukul 08.00–16.00 WIB. Di lokasi ini terdapat sekitar 30 pedagang baju bekas. Pras menyebut Pasar Babebo menjadi yang terbesar di Kabupaten Jember setelah pasar serupa di Kecamatan Rambipuji dan Mangli.

Pedagang ikut belajar mengenali merek

Pras mengaku pemahamannya tentang merek berkembang seiring waktu. Jika dahulu ia hanya menjual barang tanpa mengenali brand tertentu, kini ia mulai memahami merek-merek pabrikan luar negeri. Beberapa barang bermerek ia pisahkan, terutama saat pasokan datang pada hari Jumat dari pemasok di Bali atau Surabaya.

Ia menjelaskan, barang biasanya tiba dalam kondisi dipress dalam satu karung seberat satu kuintal, sehingga isi barang bergantung pada faktor keberuntungan. Setelah disortir, pakaian yang dianggap bagus dan layak jual akan dipajang, sementara barang bermerek tertentu kadang disisihkan untuk pelanggan yang sudah memesan.

“Terkadang ada juga pelanggan yang meminta untuk suatu brand tertentu yang dipesannya, jadi saat saya temukan brand yang di maksud itu saya langsung menghubunginya,” terangnya.

Pras juga menyebut tren dan selera pembeli terus berubah, membuat pedagang kerap belajar dari pelanggan. Ia mengaku pernah mencoba berjualan secara daring, namun akhirnya memilih fokus berjualan di lapak karena keterbatasan tenaga.

  • Lokasi: Dusun Karang Miuwo, Desa Mangli, Kecamatan Kaliwates, Jember
  • Jam buka: 08.00–16.00 WIB
  • Jumlah pedagang: sekitar 30 lapak
  • Hari ramai barang baru: Jumat (juga Sabtu dan Minggu)