Gerai jajanan pasar Sari Sari di Jalan Sultan Tirtayasa, Bandung, dikenal ramai didatangi pembeli. Sejumlah pelanggan bahkan datang sejak pukul 05.00 WIB untuk menghindari kehabisan kue.
Setelah puluhan tahun bertahan, Sari Sari kini memperluas usaha dengan membuka cabang. General Manager Sari Sari Outlet Tirtayasa, Rheza Arden Wiguna, mengatakan pada 2021 Sari Sari membuka gerai kecil di Jalan Sukaresmi. Kemudian pada April 2022, Sari Sari membuka gerai di Sarinah, Jakarta.
“Tahun 2021 kami membuka gerai kecil di Jalan Sukaresmi dan April 2022 buka di Sarinah. Alhamdulillah semua gerai dapat antusias yang tinggi dari pembeli,” ujar Rheza.
Berawal dari gerobak di depan gang
Rheza menceritakan, perjalanan Sari Sari dimulai pada 1967 di depan Gang Kote, Bandung. Saat itu, usaha keluarga tersebut masih berupa gerobak kecil yang mencoba menjajakan berbagai makanan.
“Engkong dan papi saya belum tau mau dagang apa. Semua dicoba di gerobak itu seperti baso tahu, kue-kue biasa, karena termotivasi dari toko roti selai seberang yang sangat laris. Saat itu tidak laku sama sekali,” kata Rheza.
Perubahan terjadi ketika seorang pedagang onde-onde wijen menitipkan dagangannya. Menurut Rheza, onde-onde justru menjadi produk yang paling dicari pembeli. Seiring waktu, semakin banyak pedagang lain menitipkan jajanan pasar, hingga gerobak kecil tak lagi mampu menampung.
Dari Jalan Sudirman ke Tirtayasa
Tujuh tahun setelah memulai dari gerobak, Sari Sari membuka gerai di Jalan Sudirman. Usaha tersebut disebut laris dan memiliki banyak etalase. Namun pada 2012, Sari Sari memutuskan pindah ke Jalan Tirtayasa.
Rheza menjelaskan, perpindahan itu dipengaruhi perubahan kondisi Jalan Sudirman yang menjadi jalan searah, sehingga penjualan eceran menurun.
“Tujuh tahun kemudian buka gerai di Jalan Sudirman. Laris manis dan punya banyak etalase, sampai akhirnya tahun 2012 kami memutuskan untuk pindah ke Jalan Tirtayasa. Di Jalan Sudirman sudah jadi jalan searah, pembelian eceran kami jadi menurun pesat,” ujarnya.
Menjaga cita rasa dan merangkul pemasok
Menurut Rheza, kepindahan ke Jalan Tirtayasa menjadi langkah yang tepat karena gerai yang dibuka lebih besar untuk menampung jumlah pembeli yang terus bertambah. Sari Sari menawarkan beragam jajanan pasar, sekaligus berupaya mempertahankan kualitas dan cita rasa dengan harga terjangkau.
Ia mencontohkan upaya menjaga rasa asli pada salah satu produk yang dijual. “Salah satu kelebihan Sari Sari selain harga murah adalah mempertahankan cita rasa asli. Seperti contohnya serabi Solo, kami kebetulan kenal dengan supplier yang memang asli Solo sehingga kami berhasil dapatkan rasa aslinya,” tutur Rheza.
Rheza juga menyampaikan, Sari Sari yang kini dikelola generasi ketiga memiliki misi merangkul puluhan pemasok, terutama di wilayah Bandung, untuk berkembang bersama. Selain itu, Sari Sari ingin mempertahankan dan mengenalkan aneka kue basah sebagai bagian dari identitas Indonesia.
Dikelola generasi ketiga, memperluas gerai
Dalam pengelolaannya saat ini, Rheza menyebut setiap cabang mempekerjakan sekitar 30–40 pegawai. Ia mengatakan, cabang di Kedai Mendjamu diurus oleh kakaknya, sementara gerai di Sarinah diurus oleh adiknya yang lain.
“Kini sudah diurus oleh generasi ketiga dengan dua gerai cabang, setiap cabangnya kami pekerjakan 30-40 pegawai. Di kedai Mendjamu diurus oleh adik saya yang pertama, dan di Sarinah diurus adik saya yang kedua. Mohon doanya agar tahun depan kami bisa mengajak lebih banyak supplier dan bisa buka di kota lain,” tutupnya.

