Gaya hidup berbasis tanaman atau plant-based diet kian banyak dilirik Generasi Z. Jika sebelumnya pola makan ini identik dengan vegan atau vegetarian yang ketat, kini Gen Z disebut lebih fleksibel karena tidak selalu menerapkannya secara penuh, tetapi berupaya memperbanyak konsumsi makanan dari sumber nabati.
Pola makan ini dijalani dengan tujuan mengurangi produk hewani, yang dikaitkan dengan pertimbangan kesehatan, lingkungan, serta kesejahteraan hewan. The Good Food Institute mencatat minat Gen Z terhadap plant-based diet meningkat karena sejumlah faktor, termasuk kesadaran akan keberlanjutan (sustainability), upaya menjaga keseimbangan tubuh, dan dukungan terhadap gaya hidup yang lebih mindful.
Bagi sebagian Gen Z, pilihan untuk memperbanyak makanan berbasis tanaman bukan semata mengikuti tren, melainkan dianggap sebagai bagian dari cara hidup yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
Secara umum, inti dari plant-based diet adalah menjadikan 70%–90% asupan makanan berasal dari bahan nabati. Sumbernya meliputi sayuran, buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, serta protein berbasis tanaman seperti tahu, tempe, lentil, dan edamame.
Sementara itu, produk hewani seperti daging, susu, dan telur masih dapat dikonsumsi. Namun porsinya diperkecil atau ditempatkan sebagai pelengkap, bukan menjadi fokus utama dalam menu harian.
Berikut contoh menu harian dengan pendekatan plant-based: sayuran dan buah sebagai komponen utama, ditambah biji-bijian utuh serta protein nabati seperti tahu atau tempe. Produk hewani dapat disertakan dalam porsi kecil sesuai kebutuhan.

