Menu rumahan masih menjadi bagian penting dalam keseharian masyarakat Indonesia, meski pilihan makanan siap saji dan layanan pesan antar kian mudah dijangkau. Di tengah aktivitas yang padat, banyak keluarga tetap mempertahankan kebiasaan memasak di rumah karena dinilai lebih hemat, lebih sehat, sekaligus membuka ruang kebersamaan.
Tren ini tidak semata terkait nostalgia pada masakan keluarga. Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran terhadap kualitas pangan turut meningkat. Masyarakat makin memperhatikan kandungan gizi, keamanan makanan, hingga kebutuhan mengelola pengeluaran rumah tangga secara lebih bijak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Statistik Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga menunjukkan pengeluaran untuk kelompok makanan masih menjadi komponen terbesar dalam konsumsi rumah tangga Indonesia. Sementara itu, Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) juga memperlihatkan sebagian besar rumah tangga Indonesia masih mengolah makanan sendiri untuk kebutuhan konsumsi harian. Gambaran ini menegaskan dapur rumah belum kehilangan perannya di tengah perubahan gaya hidup.
Kendali gizi lebih mudah lewat masakan rumah
Salah satu alasan menu rumahan tetap relevan adalah adanya kendali terhadap bahan dan cara pengolahan. Keluarga dapat menyesuaikan jenis minyak goreng, takaran garam dan gula, serta pilihan sayur dan lauk sesuai kebutuhan anggota keluarga.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Pedoman Gizi Seimbang menganjurkan konsumsi makanan beragam, memperbanyak sayur dan buah, serta membatasi gula, garam, dan lemak. Anjuran ini dinilai lebih mudah diterapkan ketika makanan disiapkan sendiri dibanding mengandalkan makanan siap santap.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga merekomendasikan konsumsi garam tidak lebih dari 5 gram per hari, atau sekitar satu sendok teh, untuk membantu menurunkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular. WHO turut menyarankan pembatasan gula tambahan hingga kurang dari 10 persen dari total kebutuhan energi harian, bahkan idealnya di bawah 5 persen untuk manfaat kesehatan yang lebih baik.
Dalam praktiknya, menu rumahan memberi keleluasaan menyesuaikan cita rasa tanpa harus mengorbankan kualitas gizi. Hidangan seperti sayur bening, tumis kangkung, pepes ikan, tempe, tahu, atau ayam berbumbu sederhana dapat memenuhi kebutuhan nutrisi jika dikombinasikan secara seimbang.
Pertimbangan hemat di tengah kenaikan biaya hidup
Selain kesehatan, faktor ekonomi menjadi alasan lain yang menguatkan posisi masakan rumah. Harga makanan di luar rumah cenderung menyesuaikan kenaikan biaya bahan baku, distribusi, hingga operasional usaha kuliner.
BPS mencatat inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu komponen yang rutin memengaruhi pengeluaran masyarakat setiap tahun. Kondisi ini membuat banyak keluarga kembali menghitung biaya makan harian dengan lebih cermat.
Memasak sendiri memungkinkan pembelian bahan secara lebih efisien. Satu kilogram ayam, misalnya, dapat diolah menjadi beberapa menu untuk beberapa kali makan. Sayuran yang dibeli pada pagi hari juga bisa dimanfaatkan dalam variasi masakan sehingga mengurangi sisa bahan makanan. Cara ini sejalan dengan upaya menekan pemborosan pangan.
Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan sekitar 13 persen pangan dunia hilang pada tahap pascapanen hingga distribusi. Sementara United Nations Environment Programme (UNEP) melaporkan sekitar 19 persen makanan yang tersedia di tingkat ritel, rumah tangga, dan layanan makanan berakhir menjadi limbah. Perencanaan menu di rumah menjadi salah satu langkah sederhana untuk menekan pemborosan tersebut.
Menu sederhana dan kebiasaan makan bersama
Nilai menu rumahan tidak hanya terletak pada bahan makanan, tetapi juga suasana yang tercipta saat makan bersama. Banyak keluarga memanfaatkan waktu sarapan atau makan malam untuk berbincang tanpa gangguan pekerjaan maupun gawai.
Berbagai penelitian di bidang kesehatan masyarakat menunjukkan kebiasaan makan bersama keluarga berkaitan dengan pola makan yang lebih baik, terutama pada anak dan remaja. Anak cenderung lebih banyak mengonsumsi sayur dan buah ketika makan bersama keluarga dilakukan secara rutin.
Di kota besar seperti Surabaya, ritme kehidupan yang cepat kerap membuat waktu berkumpul terbatas. Dalam situasi ini, menu rumahan kerap memiliki nilai emosional yang semakin penting. Hidangan tidak harus mewah, tetapi cukup menghadirkan kesempatan berbagi cerita setelah beraktivitas seharian.
Berjalan berdampingan dengan kemudahan modern
Kemajuan teknologi memberi banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan makan, mulai layanan pesan antar, makanan siap saji, hingga ragam kuliner yang cepat berganti tren. Namun, berbagai pilihan tersebut tidak serta-merta menggeser posisi menu rumahan. Keduanya kini berjalan berdampingan: makanan dari luar rumah menjadi pelengkap pada momen tertentu, sementara dapur rumah tetap menjadi pusat konsumsi harian.
Seiring itu, semakin banyak orang menikmati proses memasak sebagai aktivitas yang menyenangkan. Memasak tidak lagi dipandang semata pekerjaan domestik, melainkan bagian dari gaya hidup yang menghadirkan kreativitas sekaligus rasa pencapaian.
Pada akhirnya, menu rumahan bukan hanya soal hidangan di meja makan. Ia mencerminkan upaya menjaga kesehatan, mengatur pengeluaran, memperkuat kedekatan keluarga, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.

