Tren Makanan Sehat 2025: Memilah Fakta dan Mitos di Tengah Hype Media Sosial

Tren Makanan Sehat 2025: Memilah Fakta dan Mitos di Tengah Hype Media Sosial

Tren makanan sehat terus berganti seiring maraknya konten gaya hidup di media sosial. Memasuki 2025, beragam produk dan pola makan kembali viral dan kerap dikaitkan dengan klaim kesehatan. Namun, tidak semua tren otomatis lebih baik bagi tubuh. Sejumlah di antaranya terbukti bermanfaat, sementara lainnya lebih dekat ke mitos yang dibungkus narasi “wellness”.

Berikut sejumlah tren makanan sehat 2025 yang perlu dicermati—mana yang didukung manfaat, dan mana yang sebaiknya disikapi hati-hati.

1. Susu nabati: selalu lebih sehat dari susu sapi?

Tren susu nabati seperti oat milk, almond milk, dan susu kedelai masih berlanjut. Namun, klaim “lebih sehat” tidak berlaku untuk semua jenis dan produk.

  • Susu kedelai disebut memiliki kandungan protein yang mendekati susu sapi.
  • Susu almond sering kali rendah protein dan dapat mengandung tambahan gula bila tidak cermat memilih.

Jika ingin memilih susu nabati, perhatikan komposisi. Pilih produk tanpa tambahan gula dan yang diperkaya (fortifikasi) kalsium.

2. Makanan fermentasi baik untuk usus

Kimchi, kombucha, tempe, dan kefir semakin populer karena dikaitkan dengan manfaat probiotik. Probiotik membantu menjaga keseimbangan mikrobiota usus, yang dapat berpengaruh pada imunitas dan kesehatan mental.

Meski demikian, efeknya bisa berbeda pada tiap orang, tergantung kondisi saluran cerna masing-masing. Kombucha yang terlalu asam atau difermentasi berlebihan juga dapat memicu gangguan pencernaan.

3. Charcoal drink untuk detoks

Minuman dengan activated charcoal kerap dipromosikan sebagai cara “menyerap racun” dalam tubuh. Namun, tubuh manusia sebenarnya memiliki sistem detoks alami melalui hati dan ginjal.

Selain itu, arang aktif dapat menyerap nutrisi penting dan obat-obatan jika dikonsumsi dalam waktu berdekatan. Karena itu, minuman arang aktif tidak diperlukan untuk “membersihkan” tubuh.

4. Keto vegan (ketotarian): kombinasi ideal?

Diet ketotarian menggabungkan pola keto (rendah karbohidrat) dengan pola makan nabati. Secara konsep terdengar menarik, tetapi praktiknya tidak selalu mudah karena banyak sumber protein nabati justru tinggi karbohidrat, seperti kacang-kacangan.

Pola makan ini dapat dijalankan dengan lebih aman bila dirancang bersama ahli gizi. Tanpa perencanaan yang tepat, diet ini berisiko membuat asupan energi tidak mencukupi.

5. Plant-based meat: sehat dan ramah lingkungan?

Daging nabati olahan sering dipilih karena dianggap lebih ramah lingkungan dan bebas kolesterol. Namun, tidak semua produk otomatis lebih sehat. Daging nabati olahan dapat tinggi sodium dan bahan aditif, sementara nilai gizinya belum tentu lebih baik dibanding daging ayam tanpa lemak atau tempe.

Konsumsinya sesekali dinilai tidak masalah, tetapi protein nabati alami tetap disarankan sebagai pilihan utama.

Kesimpulan

Tren makanan sehat 2025 menawarkan banyak opsi yang menarik, tetapi klaim kesehatan perlu ditelaah sebelum diikuti. Makanan sehat tidak hanya ditentukan oleh label atau popularitas, melainkan keseimbangan gizi, kebutuhan tubuh, dan dasar bukti yang jelas.

Di tengah tren yang cepat berubah, berkonsultasi dengan ahli gizi tetap menjadi langkah bijak sebelum mencoba pola makan baru.