BERITA TERKINI
Tren Kuliner Sehat di Kalangan Gen Z Dinilai Jadi Peluang Bisnis Menjanjikan

Tren Kuliner Sehat di Kalangan Gen Z Dinilai Jadi Peluang Bisnis Menjanjikan

Sektor kuliner di Indonesia disebut tengah memasuki fase transformasi, seiring meningkatnya kesadaran pola makan sehat di kalangan Generasi Z (Gen Z), kelompok yang lahir pada 1997–2012. Perubahan preferensi konsumen ini dinilai membuka peluang bisnis kuliner berbasis makanan bergizi (healthy food) yang kian relevan di pasar domestik.

Dalam kajian yang disusun Jeni Putri Apriliyana dan Rani Chandra Difani dari Program Studi Manajemen Sumber Daya Manusia (S1) Universitas Pamulang, tren healthy food dipetakan melalui pendekatan studi kelayakan bisnis. Analisis mencakup aspek pasar, operasional, strategi promosi, serta pemetaan hambatan dan peluang.

Data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) pada 2024 mencatat subsektor kuliner menyumbang lebih dari 41% terhadap total Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif Indonesia. Di tengah persaingan yang ketat, makanan sehat disebut mulai menempati posisi strategis sebagai celah pasar, terutama karena dorongan permintaan dari konsumen muda.

Gen Z disebut menjadi salah satu segmen konsumen paling berpengaruh di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023 mencatat jumlah Gen Z mencapai lebih dari 75 juta jiwa, atau sekitar 27% dari total penduduk. Karakter konsumsi kelompok ini digambarkan lebih peduli pada nilai gizi, kritis terhadap kandungan produk, fasih memanfaatkan teknologi digital, serta dipengaruhi arus informasi di media sosial.

Perilaku tersebut mendorong kebutuhan akan produk makanan yang tidak hanya lezat, tetapi juga menyehatkan, transparan dalam pelabelan bahan, serta menarik secara visual untuk dibagikan di ruang digital. Kajian itu menilai fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian dari pergeseran nilai konsumsi.

Rujukan lain yang dikutip dalam kajian tersebut adalah laporan Nielsen Indonesia (2024), yang menyebut sekitar 71% konsumen muda Indonesia menyatakan bersedia membayar lebih untuk produk pangan yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Angka itu dipandang mencerminkan pergeseran orientasi konsumsi, dari sekadar mengejar harga murah dan rasa kenyang, menuju pertimbangan kesehatan dan keberlanjutan.

Melalui metode deskriptif-kualitatif yang menggabungkan kajian kepustakaan, tren industri, serta referensi akademis dan industri, kajian itu menyimpulkan bisnis healthy food memiliki potensi pasar yang menjanjikan dengan pertumbuhan yang stabil. Pendorongnya antara lain karakter Gen Z yang kritis, melek digital, dan berorientasi pada kesehatan serta keberlanjutan lingkungan.

Kajian tersebut juga menekankan pentingnya strategi yang tepat agar bisnis kuliner sehat dapat bersaing. Strategi yang disebut antara lain pemanfaatan platform digital, inovasi menu berbahan lokal, serta keterbukaan informasi nutrisi kepada konsumen.

Selain memetakan tren, kajian itu menyusun empat tujuan utama: memetakan perkembangan healthy food di kalangan Gen Z, menganalisis peluang dan kelayakan bisnis kuliner sehat, merumuskan strategi implementasi bagi pelaku usaha baru, serta mengidentifikasi tantangan yang perlu diantisipasi sejak awal.

Dalam tinjauan literatur, kajian tersebut menggarisbawahi peran studi kelayakan bisnis sebagai langkah sistematis sebelum usaha dijalankan, termasuk menilai aspek pasar dan pemasaran, teknis-operasional, hukum, organisasi dan manajemen, hingga kelayakan finansial. Pada industri kuliner yang kompetitif dan cepat berubah, pemahaman perilaku konsumen dan dinamika persaingan dinilai menjadi fondasi penting dalam menentukan kelayakan usaha.

Gen Z juga disebut sebagai generasi yang tumbuh sepenuhnya dalam ekosistem digital. Kajian itu mencatat pola konsumsi mereka sangat dipengaruhi konten digital, ulasan daring, serta rekomendasi sesama pengguna di platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube.

Dengan karakter pasar tersebut, bisnis kuliner sehat dinilai berpotensi menjadi usaha yang layak, berkelanjutan, dan memiliki daya saing apabila dijalankan dengan pendekatan yang sesuai dengan perilaku konsumen muda.