Anak muda di Korea Selatan kian ramai membicarakan pola makan yang diyakini dapat memperlambat penuaan. Berbeda dari tren beberapa tahun terakhir yang identik dengan rasa pedas dan bumbu kuat, sebagian generasi Z dan milenial kini memilih menu yang lebih ringan, minim olahan, dan menekankan bahan seperti kacang-kacangan, sayur, ikan, serta unggas.
Di platform X, Ha Sang-hee yang berusia 30-an rutin membagikan foto racikan makanan buatannya. Ia menyebut pola makannya sebagai “diet untuk memperlambat penuaan”, yang umumnya menghindari nasi putih, makanan olahan, dan saus berbumbu kuat. Setelah delapan bulan menjalaninya, Ha mengatakan stamina dan kekebalan tubuhnya membaik, sekaligus membantu menstabilkan pikiran dan mengurangi pikiran negatif.
Ha bukan satu-satunya. Di X, ada grup yang membahas diet perlambatan penuaan dengan sekitar 58.000 partisipan, yang mayoritas berusia 20-an hingga 30-an tahun.
Dari tren media sosial menjadi gerakan
Istilah “perlambatan penuaan” merujuk pada gaya hidup yang berfokus memperpanjang rentang hidup melalui kebiasaan baik, sambil meminimalkan stres fisik dan mental. Pola makan menjadi salah satu bagian dari pendekatan tersebut.
Perubahan selera ini dinilai cukup kontras dengan kebiasaan sekitar awal 2020-an, ketika makanan bercita rasa kuat dan pedas populer karena dianggap dapat membantu meredakan stres.
Salah satu pemicu pergeseran perhatian ke pola makan yang lebih sehat adalah kampanye yang dilakukan Jung Hee-won, profesor kedokteran geriatri di Asan Medical Center, Seoul. Sejak 2024, Jung aktif mempromosikan gaya hidup berbasis metode diet MIND (Mediterranean-DASH Intervention for Neurodegenerative Delay).
Prinsip diet MIND dan saran pengganti nasi putih
Diet MIND menggabungkan diet Mediterania dan diet DASH. Diet Mediterania menekankan pengurangan makanan olahan serta keseimbangan asupan biji-bijian utuh dan protein. Sementara itu, diet DASH berfokus pada upaya menurunkan hipertensi, antara lain dengan mengurangi asupan garam.
Dalam buku Slow Aging Diet (2024), Jung menguraikan enam prinsip, termasuk memperoleh nutrisi penting dari biji-bijian dan kacang-kacangan, memperbanyak sayur dan buah, lebih banyak mengonsumsi ikan dan unggas, mengurangi gula sederhana, serta membatasi konsumsi alkohol.
Mengingat nasi merupakan makanan pokok di Korea, Jung juga menyarankan pengganti nasi putih berupa campuran kacang lentil, gandum, beras merah, dan beras putih dengan rasio 4:2:2:2. Tujuannya agar kenaikan gula darah berlangsung lebih perlahan sekaligus meningkatkan asupan protein yang tepat.
Meningkatnya minat kesehatan di kalangan usia 20–30-an
Peralihan ke pola makan ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran hidup sehat di kalangan anak muda Korea Selatan. Riset Embrain Trendmonitor terhadap 1.000 responden berusia 19–69 tahun pada Juli 2024 menunjukkan 55% responden usia 20-an dan 49,5% usia 30-an berupaya menjaga kesehatan. Pada 2016, angkanya tercatat 30,8% untuk usia 20-an dan 32% untuk usia 30-an.
Dalam riset yang sama, ketika ditanya tentang kesediaan menginvestasikan waktu dan uang untuk menunda penuaan, 81% responden usia 20-an dan 88% usia 30-an menjawab bersedia. Sejumlah pihak mengaitkan perubahan pandangan ini dengan meningkatnya kesadaran kesehatan pascapandemi Covid-19, serta meningkatnya kasus obesitas dan diabetes pada kelompok usia 20-an.
Jung menilai generasi muda mulai melihat risiko gaya hidup modern dan semakin tertarik mencegah penuaan yang tidak sehat. Menurutnya, persepsi bahwa “semuanya baik-baik saja saat masih muda” mulai bergeser karena sebagian anak muda mengalami obesitas dan penyakit terkait gaya hidup lebih dini, memunculkan kekhawatiran bahwa mereka bisa menua lebih cepat dibanding generasi orang tua.
Ia juga menyoroti bahwa generasi milenial dan gen Z menghargai keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, serta cenderung aktif dalam perawatan diri. Dalam konteks ini, pengelolaan kesehatan dipandang sebagai bentuk peningkatan diri dan rekreasi.
Dari sisi ekonomi konsumen, Choi Chul, profesor ekonomi konsumen di Sookmyung Women’s University, menilai meningkatnya pendapatan rata-rata turut mendorong masyarakat mencari kepuasan dari konsumsi yang berorientasi kesehatan.
Industri makanan ikut menyesuaikan
Menguatnya tren ini mendorong perusahaan makanan beradaptasi. Jaringan toko serba ada 7-Eleven Korea Selatan dan produsen makanan CJ CheilJedang meluncurkan produk yang terinspirasi dari resep Jung, dengan kandungan biji-bijian, garam lebih sedikit, dan lebih banyak sayuran.
Seorang pejabat 7-Eleven Korea Selatan mengatakan, kotak makan siang dan makanan siap saji hasil kolaborasi dengan Jung banyak disebut di internet, dengan ulasan yang sebagian besar datang dari generasi milenial dan gen Z, mulai remaja hingga orang dewasa usia awal 40-an.
Jaringan toko swalayan GS25 dari GS Group meluncurkan beras setengah giling pada Februari 2025. Perusahaan ini mencatat penjualan biji-bijian campuran naik 60,7% pada Januari dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
CJ CheilJedang juga merilis lini nasi microwave Hetbahn yang mengikuti resep Jung, terdiri atas biji lentil, serealia, beras merah, dan beras putih. Produk Hetbahn yang mencampur konjak dan beras dilaporkan telah terjual 18,6 juta hingga Desember 2024.
Lee Eun-hee, profesor ilmu konsumen di Inha University, menilai ragam produk akan terus bertambah untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang tertarik pada tren perlambatan penuaan, sekaligus berpotensi memperluas pasar makanan berfokus kesehatan.
Meski demikian, Choi berpendapat gerakan perlambatan penuaan bisa berubah seiring karakter tren media sosial yang dinamis. Namun, ia menilai kecenderungan hidup sehat setidaknya akan tetap bertahan.

