TNI Angkatan Darat (TNI AD) mengirim Tim Khusus yang melibatkan personel tenaga medis dan kesehatan untuk mengikuti pelatihan manajemen gizi dan pengolahan makanan sehat, termasuk studi banding ke luar negeri. Langkah ini dilakukan untuk mendukung kesuksesan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pabanda Puanter Sterdam XIV/Hasanuddin, Mayor Inf Abdi Hermianto, mengatakan salah satu bentuk pelatihan tersebut adalah partisipasi personel Kodam XIV/Hasanuddin dalam Pelatihan Manajemen Makanan Institusional di Army CSSCOM Singapura. Pernyataan itu disampaikannya saat berbincang dalam Siaran TNI/POLRI, Rabu, 25 Maret 2026.
Abdi menjelaskan, dalam penugasan belajar dan pelatihan tersebut peserta perlu menyiapkan sejumlah kelengkapan administrasi dan perlengkapan pribadi. Di antaranya surat perintah (Sprin) PDW, paspor dinas, pakaian dinas lapangan (PDL) TNI, pakaian dinas harian (PDH) dan baret, perlengkapan olahraga TNI AD, laptop, alat tulis, serta perlengkapan perorangan lainnya.
Total personel yang dikirim berjumlah 34 orang, terdiri atas 26 personel TNI AD, tiga pendamping militer, empat personel Persit Kartika Chandra Kirana, serta satu peninjau, yakni Kolonel Inf Septa Viandi Dwi Putra, S.IP., M.Han. Sejumlah personel yang diberangkatkan disebut memiliki kapabilitas di bidang gizi serta medis dan kesehatan.
Materi pembelajaran dan pelatihan yang diikuti mencakup sistem rantai pasok pangan, konsep manajemen ransum SAF, konsep dan model pengoperasian dapur, teknologi pangan, perencanaan menu, materi gizi untuk semua usia, sistem manajemen keamanan pangan, pemeriksaan penyakit saluran pencernaan, serta temuan umum dari inspeksi dapur.
Menurut Abdi, pelatihan teori dipandu langsung oleh instruktur CSSCOM dan SATS. Ia menyoroti penggunaan teknologi modern dan peralatan dapur serba otomatis dalam penerapan konsep manajemen ransum di Singapura.
Dalam aspek keamanan ransum, pelatihan juga menekankan kontrol suhu dan kontrol waktu. Untuk kontrol suhu menggunakan thermometer probe, ketentuannya antara lain suhu inti makanan matang lebih dari 75°C, penyimpanan makanan matang lebih dari 70°C, serta penyimpanan dingin pada -18°C, 0–3°C, dan 5–8°C. Selain itu, peserta mempelajari “zona bahaya suhu” pada rentang 5°C hingga 60°C yang disebut sebagai kondisi ketika bakteri tumbuh cepat.
Adapun kontrol waktu mencakup pelabelan pada kotak dan kantong makanan, serta ketentuan makanan wajib dikonsumsi dalam empat jam setelah meninggalkan sumber panas.
Abdi juga menyampaikan peran strategis Kodam XIV/Hasanuddin dalam mendukung Program MBG. Peran tersebut meliputi pembagian makan siang bergizi gratis secara serentak dan berkelanjutan bagi siswa sekolah, serta memastikan dapur sehat atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Sulawesi Selatan—termasuk Sulawesi Tenggara—beroperasi sesuai standar keamanan pangan dan gizi untuk menjaga kualitas makanan.
Selain itu, Kodam XIV/Hasanuddin memperkuat sinergi dengan berbagai pihak melalui kolaborasi pemangku kepentingan, termasuk GAPEMBI (Gabungan Pengusaha Makan Bergizi), guna memastikan kelancaran program MBG sekaligus mendorong pemberdayaan UMKM lokal. Kodam XIV/Hasanuddin juga disebut menyiapkan lahan SPPG sesuai instruksi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad), termasuk lahan SPPG aglomerasi dan lahan SPPG terpencil.
Program MBG disebut difokuskan sebagai langkah preventif stunting serta pemenuhan gizi anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Upaya ini dinyatakan sejalan dengan program nasional sebagai dukungan TNI AD terhadap program prioritas pemerintah untuk mencerdaskan dan menyehatkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

