JAKARTA — Rencana pemerintah mengurangi dominasi impor bahan baku untuk industri makanan dan minuman (mamin) dinilai perlu diawali dengan penguatan produksi di sektor hulu melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Sejumlah hambatan masih harus diselesaikan agar bahan baku domestik lebih berdaya saing dan mampu mengejar kebutuhan industri.
Kementerian Perindustrian mencatat, 62 persen kebutuhan bahan baku industri mamin masih berasal dari impor. Pemerintah menargetkan penurunan impor bahan baku, terutama pada empat subindustri, yakni pengolahan susu, buah, gula berbasis tebu, dan pemurni jagung.
Gula: perlu strategi lahan dan produktivitas
Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat menilai pemerintah perlu menyiapkan strategi yang jelas untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Menurut dia, strategi tersebut perlu mencakup ekstensifikasi berupa penambahan lahan serta intensifikasi yang berorientasi pada peningkatan produktivitas.
Budi menekankan, kedua pendekatan itu perlu berjalan beriringan dan didukung peta jalan yang terperinci.
Jagung: perbedaan kebutuhan pakan dan pangan
Ketua Bidang Riset dan Teknologi Dewan Jagung Nasional Tony J Kristianto menyampaikan, kebutuhan jagung untuk industri pakan dan pangan berbeda. Industri pakan menggunakan jagung kuning (yellow corn), sedangkan industri pangan mengimpor jagung gigi-kuda (dent corn) karena kandungan patinya.
Namun, Indonesia belum memiliki benih jagung gigi-kuda yang dapat ditanam petani. Sementara jagung kuning lokal juga masih menghadapi kendala, salah satunya produktivitas yang disebut masih di bawah 4 ton per hektar.
Susu: pasokan domestik masih terbatas
Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boediyana menyebutkan, susu segar dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 10–20 persen kebutuhan nasional. Mayoritas bahan baku industri susu masih diimpor dalam bentuk bubuk dan lemak.
Untuk memenuhi 90 persen kebutuhan susu nasional, menurut Teguh, pemerintah perlu menyiapkan populasi 2,5 juta ekor sapi betina. Adapun populasi sapi betina saat ini disebut masih berkisar 300.000–400.000 ekor.
Payung hukum dan jaminan bagi peternak
Teguh menilai, substitusi bahan baku impor pada industri susu membutuhkan payung hukum yang mendukung perkembangan persusuan nasional sekaligus memberi jaminan kepada peternak sapi perah rakyat.
Ia menekankan peternak sapi perah rakyat merupakan aktor penting karena berperan menggeliatkan ekonomi desa dan menciptakan lapangan kerja. Tanpa payung hukum, ia menilai substitusi impor bahan baku susu berisiko hanya menjadi jargon.
Target pemerintah dan kondisi industri
Sebelumnya, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Abdul Rochim menyatakan kontribusi bahan baku dalam negeri untuk industri mamin ditargetkan mencapai 60 persen. Target tersebut disebut sejalan dengan program substitusi impor 35 persen pada 2022.
Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gappmi) Adhi S Lukman mengatakan industri mamin saat ini masih kekurangan bahan baku, sehingga impor tetap tinggi. Ia mencontohkan, industri mamin masih mengimpor 80 persen kebutuhan susu, 70 persen kedelai, 100 persen gula, serta 80 persen garam untuk mutu tertentu.
Daya saing dan penguatan rantai pasok
Data Indonesia Economic Forum 2019 menunjukkan produktivitas industri manufaktur tanaman pangan Indonesia masih di bawah sejumlah negara ASEAN, termasuk Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, dan Malaysia. Skor produktivitas Indonesia tercatat 74,4, di bawah rata-rata skor produktivitas ASEAN sebesar 78,2.
Adhi menilai peran BUMN dan swasta penting untuk membangun rantai pasok yang tangguh serta menghasilkan bahan baku berkelanjutan di dalam negeri. Ia juga mendorong pemerintah memetakan prioritas sumber daya alam dan komoditas sesuai kebutuhan industri.
- Impor bahan baku industri mamin masih mendominasi, dengan porsi 62 persen.
- Fokus pengurangan impor diarahkan pada susu, buah, gula berbasis tebu, dan pemurni jagung.
- Sejumlah tantangan di hulu mencakup produktivitas, ketersediaan benih, populasi ternak, serta kebutuhan payung hukum bagi pelaku usaha kecil.

