BERITA TERKINI
Studi Soroti Pergeseran Pola Konsumsi: Pangan Olahan Menggeser Diet Sehat di Indonesia

Studi Soroti Pergeseran Pola Konsumsi: Pangan Olahan Menggeser Diet Sehat di Indonesia

Di tengah kampanye pola makan sehat yang kian gencar, sebuah studi berjudul Healthy diets are affordable but often displaced by other foods in Indonesia yang dipublikasikan dalam jurnal Food Policy menyoroti kesenjangan antara kemampuan ekonomi dan praktik konsumsi masyarakat. Penelitian itu menyebutkan bahwa secara ekonomi, sebagian besar masyarakat Indonesia sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan gizi sesuai pedoman diet sehat. Namun, dalam praktiknya, pilihan makanan sehari-hari justru lebih banyak didominasi pangan olahan yang tinggi gula, garam, dan lemak, sehingga memunculkan tantangan serius dalam pemenuhan gizi.

Kepala Instalasi Gizi Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada, Pratiwi Dinia Sari, S.Gz, RD, menilai keputusan memilih makanan tidak semata dipengaruhi faktor ekonomi. Menurutnya, kondisi fisiologis, preferensi rasa, kebiasaan, budaya, hingga ketersediaan pangan ikut membentuk pola konsumsi. Dalam masyarakat modern, gaya hidup yang serba praktis serta kebiasaan yang terbentuk sejak kecil disebut menjadi faktor yang lebih dominan. Anak yang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kata Pratiwi, cenderung membawa kebiasaan itu hingga dewasa dan kesulitan beralih ke pola makan yang lebih sehat.

Gaya hidup cepat juga memperkuat kecenderungan tersebut. Banyak orang memilih membeli makanan jadi dibanding memasak sendiri. Sementara itu, pilihan makanan di luar rumah umumnya berupa makanan gorengan, tinggi gula, dan rendah serat. Kondisi ini membuat konsumsi buah, sayur, dan kacang-kacangan makin terpinggirkan.

Data Riskesdas 2023 menunjukkan lebih dari 95% masyarakat Indonesia belum memenuhi anjuran konsumsi buah dan sayur harian sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni minimal 400 gram per hari. Angka ini menggambarkan masih jauhnya pola makan masyarakat dari standar konsumsi yang dianjurkan.

Pratiwi menambahkan, preferensi rasa dan tekstur juga berperan besar dalam pemilihan makanan. Ada individu yang tidak menyukai buah karena dianggap terlalu berair, atau menolak sayur karena berserat. Kebiasaan sejak kecil yang lebih banyak terpapar makanan olahan dinilai memperkuat kecenderungan tersebut.

Dampak dari pola makan tinggi gula, garam, dan lemak disebut nyata, terutama terhadap meningkatnya penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, diabetes melitus, dan dislipidemia. Pratiwi juga menyoroti bahwa tren ini kini banyak ditemukan pada individu berusia di bawah 40 tahun, yang dinilai mengkhawatirkan karena berkaitan dengan produktivitas generasi muda.

Dalam menghadapi tantangan ini, edukasi gizi dinilai menjadi kunci. Pratiwi menyebut generasi milenial dan Gen Z mulai menunjukkan kesadaran terhadap pola hidup sehat, meski belum merata. Pendekatan digital melalui media sosial disebut efektif untuk menjangkau kelompok usia muda, terutama melalui konten visual yang menarik dan melibatkan influencer.

Meski demikian, edukasi berbasis keluarga tetap dianggap penting karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk pola makan seseorang. Selain itu, intervensi di sekolah juga dipandang strategis untuk menanamkan kebiasaan makan sehat sejak dini.