Pilihan kopi yang diminum setiap hari disebut tidak hanya berkaitan dengan selera, tetapi juga dapat mencerminkan kondisi psikologis dan bahkan rekam genetik seseorang. Hal itu disampaikan dalam sebuah studi klinis yang dipimpin psikolog klinis asal California, Dr. Ramani Durvasula, penulis buku You Are WHY You Eat.
Dalam penelitian yang melibatkan 1.000 partisipan, Dr. Ramani memetakan korelasi antara cara seseorang menikmati kopi dengan karakter yang tampak dalam rutinitas harian.
Bagi penikmat kopi hitam tanpa gula, hasil survei menggambarkan mereka sebagai individu yang efisien, cenderung menyukai kesederhanaan, dan bersikap lugas. Kelompok ini dinilai teguh pada pendirian, fokus pada inti persoalan, serta tidak menyukai hal-hal yang dianggap bertele-tele atau rumit.
Temuan tersebut juga dikaitkan dengan riset dari Northwestern University. Penulis studi dari universitas itu, Marilyn Cornelis, menyebut adanya hubungan genetik yang khas pada peminum kopi hitam. Menurutnya, kelompok ini memetabolisme kafein lebih cepat, sehingga efek stimulasinya juga lebih cepat menghilang. Kondisi tersebut disebut dapat menjelaskan mengapa sebagian pencinta kopi hitam rentan mengalami perubahan suasana hati ketika efek kafein menurun.
Sementara itu, peminum kopi berbasis susu seperti latte atau cappuccino digambarkan memiliki karakter yang lebih hangat dan terbuka. Mereka cenderung ramah, murah hati, serta senang membantu dan memastikan orang di sekitarnya merasa nyaman.
Meski demikian, Dr. Ramani mengingatkan adanya sisi lain dari tipe yang gemar menyenangkan orang lain. Karena terlalu fokus menjaga kebahagiaan orang lain, mereka disebut berisiko memaksakan diri hingga mengabaikan kebutuhan pribadi dan kesehatan mental.

