Program Street Food Jilid II di Kota Gorontalo mencatat perputaran uang lebih dari Rp1 miliar selama hampir satu bulan pelaksanaan. Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Jalan Raden Saleh itu menjadi ruang transaksi antara masyarakat dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Berdasarkan rekapitulasi Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM Kota Gorontalo, total omzet sejak pembukaan pada 6 Juni hingga penutupan 27 Juni 2026 mencapai Rp1.011.786.752. Angka tersebut dihimpun dari laporan penjualan yang disampaikan pedagang selama kegiatan berlangsung.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM Kota Gorontalo, Muttakin Adam, menyebut pendapatan UMKM dalam kegiatan tersebut telah menembus Rp1 miliar sesuai data yang dikumpulkan dari para pedagang.
Ia menjelaskan, meningkatnya transaksi dipengaruhi antusiasme masyarakat yang memadati kawasan Street Food setiap malam. Beragam pilihan kuliner, minuman, hingga jajanan tradisional disebut menarik ribuan pengunjung untuk datang dan berbelanja.
Dalam pelaksanaan Street Food Jilid II, tercatat 297 UMKM mendaftarkan diri. Dari jumlah itu, 282 pelaku usaha aktif berjualan, sementara 71 UMKM secara rutin melaporkan omzet penjualan sebagai dasar pencatatan transaksi.
Pergerakan ekonomi disebut terus meningkat sejak malam pertama. Pada hari pembukaan, nilai transaksi mencapai Rp222.320.352, lalu bertambah hingga melampaui Rp1 miliar menjelang penutupan kegiatan.
Capaian tersebut disebut diraih tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), karena seluruh nilai transaksi berasal dari aktivitas jual beli antara masyarakat dan para pelaku UMKM. Penyelenggaraan Street Food Jilid II juga menunjukkan bahwa penyediaan ruang usaha yang nyaman dan ramai pengunjung dapat menjadi stimulus untuk meningkatkan pendapatan UMKM.
Kawasan yang membentang dari SMP Negeri 7 Kota Gorontalo hingga Rumah Adat Dulohupa kini berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi malam yang semakin diminati masyarakat.

