BERITA TERKINI
Street Food Jadi Andalan Warga Kota, Namun Gizi Seimbang Masih Jadi Tantangan

Street Food Jadi Andalan Warga Kota, Namun Gizi Seimbang Masih Jadi Tantangan

Kehidupan perkotaan yang serba cepat membuat banyak orang mengandalkan makanan yang praktis, terjangkau, dan mudah dijangkau. Dalam mobilitas tinggi, street food atau makanan jalanan kerap menjadi pilihan pekerja, mahasiswa, hingga pelajar karena bisa memenuhi kebutuhan energi dengan cepat. Namun, dari sisi gizi, street food dinilai belum sepenuhnya mencerminkan pola makan gizi seimbang karena umumnya rendah serat serta zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral.

Di balik keterbatasan tersebut, street food memiliki peran penting dalam sistem pangan perkotaan. Keberadaannya yang mudah ditemukan di sekolah, kampus, pasar, dan kawasan industri menjadikannya solusi bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu. Street food juga turut menggerakkan perekonomian kota melalui penyediaan lapangan kerja bagi pelaku usaha kecil dan mikro.

Masalah muncul ketika kualitas gizi makanan jalanan yang dikonsumsi sehari-hari cenderung tidak seimbang. Sejumlah street food umumnya mengandung lemak jenuh, gula, dan garam dalam jumlah tinggi. Kondisi ini antara lain dipengaruhi penggunaan bumbu instan, penyedap, saus, serta proses pengolahan yang berulang. Konsumsi natrium berlebih dalam jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah. Sementara itu, jenis yang banyak dijumpai seperti gorengan, makanan olahan atau ultra processed food, serta minuman berpemanis, bila dikonsumsi terus-menerus dapat meningkatkan risiko overweight dan obesitas.

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas meningkat dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4%. Pada kelompok remaja, prevalensi obesitas tercatat 19,7% pada usia 13–15 tahun dan 12,1% pada usia 16–18 tahun. Peningkatan ini menunjukkan beban gizi lebih tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada kelompok usia muda. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian yang menyebut konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan natrium berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas.

Pola konsumsi masyarakat perkotaan yang tinggi energi, lemak, gula, dan garam juga dikaitkan dengan kebiasaan mengonsumsi makanan olahan dan minuman berpemanis. Lingkungan pangan yang didominasi makanan praktis memperkuat kebiasaan tersebut. Di sisi lain, pengetahuan gizi yang masih terbatas turut memengaruhi pemilihan makanan sehari-hari. Kondisi ini berkontribusi pada meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus dan hipertensi.

Kemudahan akses terhadap street food dan fast food turut memengaruhi pola makan warga urban. Dalam banyak kasus, konsumsi sayur dan buah cenderung rendah, sehingga asupan energi lebih banyak berasal dari lemak dan gula, sementara kebutuhan serat dan mikronutrien tidak terpenuhi. Situasi ini menggambarkan bahwa lingkungan pangan perkotaan masih menjadi tantangan besar dalam penerapan gizi seimbang.

Upaya mewujudkan gizi seimbang di perkotaan dinilai tidak cukup jika hanya mengandalkan perubahan perilaku individu, tetapi juga memerlukan perbaikan lingkungan pangan. Akses terhadap makanan sehat seperti sayur, buah, dan sumber protein rendah lemak disebut masih lebih rendah dibandingkan ketersediaan makanan cepat saji dan jajanan tinggi lemak, gula, dan garam. Urbanisasi yang pesat juga memperkuat beban ganda masalah gizi atau double burden of malnutrition, yakni hadirnya gizi kurang dan gizi lebih secara bersamaan dalam satu populasi.

Untuk mengurangi dampak negatif street food, diperlukan langkah dari berbagai pihak. Edukasi gizi perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih mampu memilih makanan yang lebih sehat. Pedagang didorong memperhatikan kualitas dan keamanan pangan, termasuk membatasi penggunaan garam dan penyedap, mengurangi penggunaan minyak berulang, serta menjaga kebersihan. Pemerintah juga dinilai perlu memperkuat pengawasan dan pembinaan bagi pelaku usaha. Sementara di tingkat individu, masyarakat dapat mengatur pola makan dengan mengombinasikan makanan rumahan dan street food, serta membatasi konsumsi gorengan dan minuman manis.