Street food kian akrab dalam keseharian masyarakat, terutama anak muda. Harganya relatif terjangkau, tampilannya menarik, dan mudah ditemukan di sekitar permukiman, kawasan wisata, kampus, hingga perkantoran. Ragamnya pun luas, dari jajanan manis dan asin hingga makanan berat yang mengenyangkan.
Popularitas ini tercermin dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 yang mencatat terdapat 4,85 juta penyedia makan dan minuman. Di tengah kemudahan akses tersebut, muncul pertanyaan: seberapa baik kualitas gizi street food jika dikonsumsi terlalu sering?
Dalam konsep gizi, makanan dikatakan baik bukan hanya karena “mengandung gizi”, melainkan karena dikonsumsi secara seimbang sesuai kebutuhan. Zat gizi terbagi menjadi makro dan mikro. Zat gizi makro—seperti energi, protein, karbohidrat, dan lemak—dibutuhkan dalam jumlah lebih besar untuk mendukung aktivitas dan perbaikan sel tubuh. Sementara itu, zat gizi mikro—seperti vitamin A, D, E, K, vitamin B, vitamin C, dan lainnya—dibutuhkan dalam jumlah lebih kecil untuk membantu menjaga sistem kesehatan tubuh.
Di Indonesia, panduan gizi seimbang dikenal melalui prinsip “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan. Panduan ini menekankan porsi sekali makan yang mencakup makanan pokok, lauk-pauk, sayuran, buah-buahan, serta minuman. Harapannya, masyarakat dapat lebih mudah mengatur pola makan yang cukup dan seimbang.
Street food sendiri tidak hanya berupa camilan, tetapi juga mencakup menu berat seperti soto, sate, nasi goreng, dan berbagai hidangan lain yang dijajakan pedagang kaki lima. Bagi banyak orang—termasuk mahasiswa dan pekerja—street food menjadi pilihan karena praktis dan dapat membantu menghemat pengeluaran, terutama pada akhir bulan.
Namun, kesesuaian street food dengan prinsip “Isi Piringku” dinilai sangat bergantung pada perilaku konsumsi masing-masing individu. Dalam praktiknya, konsumen kerap menyesuaikan pesanan berdasarkan preferensi, misalnya menambah porsi nasi atau mengurangi sayur. Padahal, porsi standar dari penjual bisa saja sudah mendekati panduan seimbang. Di sisi lain, banyak sajian street food didominasi makanan pokok dan lauk-pauk, yang cenderung tinggi energi, gula, dan lemak, sehingga penerapan “Isi Piringku” dinilai belum sepenuhnya berjalan baik.
Kemudahan memperoleh makanan tinggi energi, gula, dan lemak disebut dapat berkontribusi pada gangguan gizi, terutama obesitas. Kondisi ini dapat dipicu oleh asupan berlebih, misalnya dari gorengan, minuman dengan tambahan gula tinggi, atau menu utama dengan porsi besar. Risiko meningkat ketika pola makan tersebut tidak diimbangi aktivitas fisik, sementara keseharian banyak orang diisi dengan lebih banyak duduk, bekerja di depan laptop, atau menggunakan gawai.
Asupan zat gizi yang berlebihan, ketika tidak tersalurkan lewat aktivitas fisik, berpotensi menumpuk dan berdampak pada kenaikan berat badan. Jika berlangsung terus-menerus, obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, dan kolesterol tinggi.
Karena itu, keseimbangan antara asupan dan aktivitas fisik menjadi kunci. Selain mendorong pola konsumsi yang lebih seimbang, diperlukan pula kemudahan akses terhadap pilihan pangan sehat seperti sayur dan buah dengan variasi yang menarik. Upaya penyesuaian sajian makanan dengan panduan “Isi Piringku” juga dinilai perlu dilakukan lebih luas untuk membantu perbaikan pola konsumsi masyarakat. Pada akhirnya, kemudahan akses street food menjadi “pisau bermata dua”, bergantung pada bagaimana keseimbangan asupan dan gaya hidup dijaga.

