Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus diarahkan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Sajian MBG tidak hanya menitikberatkan pada rasa, tetapi juga pada komposisi gizi seimbang yang disusun secara terukur.
Dalam program siaran Spada Talking di RRI Pro 2 Kupang, Jumat, 1 Mei 2026, ahli gizi Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG) Noelbaki, Katarina Leni, S.Gz, menjelaskan bahwa pemenuhan gizi seimbang menjadi prinsip utama dalam setiap porsi yang disajikan. Ia menyebut, salah satu kunci pelaksanaan MBG adalah penggunaan bahan baku segar yang dipasok langsung dari petani lokal.
Menurut Katarina, strategi tersebut bertujuan menjaga kualitas gizi komoditas, mulai dari sayuran hijau hingga protein hewani, saat diolah untuk memenuhi kebutuhan ribuan sasaran di wilayah Kabupaten Kupang. “Kami sangat konsen menggunakan pangan lokal seperti ubi jalar, labu kuning, hingga nasi kelor karena selain nilai gizinya asli dan tinggi, kami juga ingin menghidupkan ekonomi petani lokal,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan bahan segar menjadi fondasi penting agar makanan yang disajikan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mendukung kesehatan jangka panjang anak-anak. Dari sisi takaran, setiap porsi MBG dihitung secara presisi menggunakan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan disesuaikan dengan kelompok sasaran yang berbeda.
Penentuan porsi ini menjadi bagian krusial dari tugas ahli gizi untuk memastikan asupan kalori serta makronutrisi harian sesuai kebutuhan, baik untuk pertumbuhan fisik maupun perkembangan kecerdasan siswa. Konsep “piring MBG” mengacu pada pedoman gizi seimbang dari Kementerian Kesehatan, yang menekankan keberagaman pangan dan porsi yang sesuai.
Khusus untuk balita di Posyandu, SPPG Noelbaki menerapkan tekstur dan komposisi gizi yang lebih spesifik, termasuk penyediaan bubur saring yang diperkaya vitamin dan mineral. Fokus kelompok ini, kata Katarina, adalah pengenalan protein hewani dan sayuran sejak dini melalui olahan yang dibuat lebih menarik agar anak terbiasa dengan pola makan gizi seimbang.
“Untuk balita yang belum bisa makan nasi, kami layani dengan bubur saring yang ditambahkan parutan keju dan sayuran agar kebutuhan gizi mereka benar-benar terpenuhi,” kata Katarina. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan masa emas pertumbuhan anak tidak terlewat akibat kekurangan zat gizi mikro yang esensial.
Dalam pelaksanaannya, variasi menu menjadi strategi agar makanan tetap diminati dan tidak membosankan. Katarina menyebut, ragam warna dan jenis makanan dihadirkan melalui pilihan seperti nasi jagung, nasi kelor, hingga olahan ubi, agar anak tidak terpaku pada nasi putih semata.
Selain mendukung pemenuhan gizi, pemanfaatan pangan lokal juga dipandang sebagai cara memperkuat ekonomi setempat. “Kalau semua SPPG menggunakan pangan lokal, kita tidak hanya dapat gizinya, tapi juga membantu petani lokal,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan tetap muncul, terutama dalam membentuk kebiasaan makan anak-anak yang cenderung memiliki preferensi tertentu. Karena itu, Katarina menilai kreativitas pengolahan dibutuhkan, termasuk saat menyajikan bahan seperti tempe atau tahu agar lebih menarik bagi anak.
Di akhir perbincangan, Katarina menekankan bahwa penerapan gizi seimbang tidak hanya menjadi tanggung jawab program MBG, tetapi juga perlu dimulai dari rumah. Ia mengajak keluarga membiasakan konsumsi pangan lokal dan menerapkan gizi seimbang sejak 1.000 hari pertama kehidupan.
SPPG Noelbaki sebagai pionir pertama di NTT berharap pola pengolahan bahan segar dan ketepatan perhitungan nutrisi ini dapat diadopsi lebih luas dalam rumah tangga. Dengan mengandalkan keberagaman pangan lokal, masyarakat diharapkan tidak bergantung pada pangan olahan pabrikan yang minim nutrisi, demi membangun generasi yang sehat dan tangguh.

